<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>SITUS IKSAB SEMARANG</title>
	<atom:link href="http://iksab1semarang.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://iksab1semarang.wordpress.com</link>
	<description>SAATNYA SANTRI MEMIMPIN DUNIA</description>
	<lastBuildDate>Fri, 03 Apr 2009 09:31:20 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<cloud domain='iksab1semarang.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://www.gravatar.com/blavatar/23f741afa6c72e02c8dd7bcfa0eb3f43?s=96&#038;d=http://s.wordpress.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>SITUS IKSAB SEMARANG</title>
		<link>http://iksab1semarang.wordpress.com</link>
	</image>
			<item>
		<title>Menuju Seminar Pesantren</title>
		<link>http://iksab1semarang.wordpress.com/2009/04/03/menuju-seminar-pesantren/</link>
		<comments>http://iksab1semarang.wordpress.com/2009/04/03/menuju-seminar-pesantren/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 03 Apr 2009 09:18:52 +0000</pubDate>
		<dc:creator>iksab semarang</dc:creator>
				<category><![CDATA[Press Release]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://iksab1semarang.wordpress.com/2009/04/03/menuju-seminar-pesantren/</guid>
		<description><![CDATA[Seminar, Pesantren<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=iksab1semarang.wordpress.com&blog=3614555&post=23&subd=iksab1semarang&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p style="text-align:center;">Tak terasa, kepengurusan IKSAB Semarang 2008-2009 sudah berjalan setahun. Tentu, sebagai sebuah organisasi kultural, IKSAB harus terus menempa diri menjadi lebih baik. Selama setahun berkibar, ada beberapa program yang berhasil direalisasikan oleh pengurus IKSAB Semarang. Setelah pelantikan, IKSAB berusaha melebarkan sayap dengan membuat blog dan email. Hasilnya cukup lumayan, banyak Iksaba yang berkunjung, dan bahkan memberikan komentar-komentar dan masukan-masukan kritis.<br />
Yang hingga sekarang belum direalisasikan adalah berdirinya Basecamp IKSAB. Masalah utama yang menghadang adalah pendanaan. Acara yang berlangsung selama setahun ini, mulai dari maulid Nabi, buka bersama, isra’ mi’raj dan beberapa kali halaqoh diskusi kepesantrenan, semuanya hanya mengandalkan support dana secara swadaya dari pengurus dan anggota. Setelah pertengahan juni tahun kemarin belum berhasil mengadakan dialog pesantren di Madrasah TBS, rencananya, pada pertengahan tahun ini, akan mengadakan seminar pesantren. Itupun kalau masalah klasik tersebut bisa teratasi. Semoga. (iksaba)</p>
<p style="text-align:center;"><img class="size-medium wp-image-22 aligncenter" title="dscn58811" src="http://iksab1semarang.files.wordpress.com/2009/04/dscn58811.jpg?w=300&#038;h=224" alt="dscn58811" width="300" height="224" /></p>
Posted in Press Release  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/iksab1semarang.wordpress.com/23/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/iksab1semarang.wordpress.com/23/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/iksab1semarang.wordpress.com/23/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/iksab1semarang.wordpress.com/23/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/iksab1semarang.wordpress.com/23/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/iksab1semarang.wordpress.com/23/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/iksab1semarang.wordpress.com/23/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/iksab1semarang.wordpress.com/23/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/iksab1semarang.wordpress.com/23/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/iksab1semarang.wordpress.com/23/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=iksab1semarang.wordpress.com&blog=3614555&post=23&subd=iksab1semarang&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://iksab1semarang.wordpress.com/2009/04/03/menuju-seminar-pesantren/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/ce37657338ccb6d6d786c84dff8e56f8?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">iksab1semarang</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://iksab1semarang.files.wordpress.com/2009/04/dscn58811.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">dscn58811</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Cinta Rasul, Cinta Damai</title>
		<link>http://iksab1semarang.wordpress.com/2009/04/03/cinta-rasul-cinta-damai/</link>
		<comments>http://iksab1semarang.wordpress.com/2009/04/03/cinta-rasul-cinta-damai/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 03 Apr 2009 09:02:34 +0000</pubDate>
		<dc:creator>iksab semarang</dc:creator>
				<category><![CDATA[Foto-foto kegiatan IKSAB]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://iksab1semarang.wordpress.com/2009/04/03/cinta-rasul-cinta-damai/</guid>
		<description><![CDATA[“Cinta itu tidak membutuhkan rasionalitas karena berkaitan dengan rasa, jadi meskipun kita itu membaca Al-Barzanji tanpa mengetahui maknanya, namun ketika tujuan kita adalah cinta kepada Nabi Muhammad, tetap akan mendapatkan pahala. Ibarat surat cinta dari kekasih, yang penting itu paham atau bahagia?” kata Dr. Muhayya, M.A, ketika mengisi acara maulid Nabi, malam Selasa, 23 Maret [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=iksab1semarang.wordpress.com&blog=3614555&post=19&subd=iksab1semarang&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>“Cinta itu tidak membutuhkan rasionalitas karena berkaitan dengan rasa, jadi meskipun kita itu membaca Al-Barzanji tanpa mengetahui maknanya, namun ketika tujuan kita adalah cinta kepada Nabi Muhammad, tetap akan mendapatkan pahala. Ibarat surat cinta dari kekasih, yang penting itu paham atau bahagia?” kata Dr. Muhayya, M.A, ketika mengisi acara maulid Nabi, malam Selasa, 23 Maret 2009, di Masjid Nurul Falah, Ringinsari, Ngaliyan, Semarang.<br />
Ya, malam itu adalah malam peringatan Manusia mulia, Nabi Besar Muhammad saw, yang digelar oleh Ikatan Santri Abiturien Madrasah TBS (IKSAB) Cabang Semarang. “Pada awalnya kita hendak menghadirkan Prof. Dr. Ahmad Rofiq, M.A, alumnus TBS yang sekarang menjabat sebagai Rektor Universitas Wahid Hasyim (Unwahas) Semarang, namun karena beliau berhalangan hadir, maka Yi Muhayya yang menggantikan,” tutur Ahmad Tajuddin Arafat, Rais IKSAB Semarang.<br />
Acara bertema “Cinta Rasul, Cinta Damai” itu menjadi meriah karena dihadiri banyak alumni TBS yang sekarang sedang menempuh studi di beberapa perguruan tinggi di lingkungan Semarang. Sekitar 50 Iksaba hadir dalam acara tersebut, masing-masing dari IAIN Semarang, Undip, UNNES, Unwahas, Unissula dan IKIP PGRI.<br />
“Sebenarnya, tidak ada yang istimewa dari acara tersebut, yang istimewa adalah temu kangen dengan Iksaba lainnya yang tersebar di Semarang,” kata Aris, alumnus TBS 2007 yang sekarang kuliah di Unwahas.  </p>
<p>Sharing<br />
Selain acara peringatan maulid Nabi, ketika itu pengurus IKSAB juga mengadakan sharing bersama berkaitan dengan keorganisasian. Selama setahun ini, IKSAB dianggap kurang intens dalam berkomunikasi dengan beberapa anggota di Semarang dan juga pengurus IKSAB di beberapa cabang di kota lain. Makanya, ada yang mengusulkan untuk lebih meningkatkan intensitas komunikasi dengan beberapa anggota, terutama yang tidak sedang menempuh studi.<br />
Selain itu, beberapa Iksaba juga mengusulkan agar program-program yang dilaksanakan tidak melulu di lingkungan IAIN Semarang. “Sekali-kali di Undip ghitu,” kata Afida, mahasiswa Iksaba Undip 2007. (iksaba)</p>
<p><img src="http://iksab1semarang.files.wordpress.com/2009/04/dscn5879.jpg?w=468&#038;h=351" alt="dscn5879" title="dscn5879" width="468" height="351" class="alignnone size-full wp-image-18" /></p>
Posted in Foto-foto kegiatan IKSAB  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/iksab1semarang.wordpress.com/19/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/iksab1semarang.wordpress.com/19/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/iksab1semarang.wordpress.com/19/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/iksab1semarang.wordpress.com/19/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/iksab1semarang.wordpress.com/19/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/iksab1semarang.wordpress.com/19/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/iksab1semarang.wordpress.com/19/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/iksab1semarang.wordpress.com/19/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/iksab1semarang.wordpress.com/19/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/iksab1semarang.wordpress.com/19/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=iksab1semarang.wordpress.com&blog=3614555&post=19&subd=iksab1semarang&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://iksab1semarang.wordpress.com/2009/04/03/cinta-rasul-cinta-damai/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/ce37657338ccb6d6d786c84dff8e56f8?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">iksab1semarang</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://iksab1semarang.files.wordpress.com/2009/04/dscn5879.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">dscn5879</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Bubarkan FPI</title>
		<link>http://iksab1semarang.wordpress.com/2008/06/03/bubarkan-fpi/</link>
		<comments>http://iksab1semarang.wordpress.com/2008/06/03/bubarkan-fpi/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 03 Jun 2008 12:52:18 +0000</pubDate>
		<dc:creator>iksab semarang</dc:creator>
				<category><![CDATA[Press Release]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://iksab1semarang.wordpress.com/?p=16</guid>
		<description><![CDATA[Press Release IKSAB TBS NU Cabang Semarang
Menanggapi peristiwa penyerangan yang dilakukan oleh Front Pembela Islam (FPI) atau Laskar Pembela Islam (LPI) terhadap 70-an lembaga dan organisasi yang tergabung di Aliansi Kebangsaan untuk Kebebasan Beragama dan Berkeyakinan (AKKBB) pada Hari Ahad (1/6) dalam acara apel dan demonstrasi di Monas, Jakarta, yang telah memakan korban sedikitnya 14 [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=iksab1semarang.wordpress.com&blog=3614555&post=16&subd=iksab1semarang&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>Press Release IKSAB TBS NU Cabang Semarang<br />
Menanggapi peristiwa penyerangan yang dilakukan oleh Front Pembela Islam (FPI) atau Laskar Pembela Islam (LPI) terhadap 70-an lembaga dan organisasi yang tergabung di Aliansi Kebangsaan untuk Kebebasan Beragama dan Berkeyakinan (AKKBB) pada Hari Ahad (1/6) dalam acara apel dan demonstrasi di Monas, Jakarta, yang telah memakan korban sedikitnya 14 orang terdiri atas para tokoh agama, LSM, anak-anak dan ibu-ibu, maka dengan ini kami atas nama Ikatan Santri Abiturien (IKSAB) Madrasah Tasywiquth Thullab Salafiyyah (TBS) NU Kudus cabang Semarang mengecam dan menyesalkan tindakan tersebut dengan beberapa alasan:<br />
1.	Sikap tersebut tidak mencerminkan keadilan dan ketentraman<br />
2.	Berlawanan dengan ajaran Islam yang santun, ramah dan rahmatan lil alamin.<br />
3.	Bukan merupakan tradisi luhur ketimuran yang menjunjung tinggi toleransi, kebersamaan dan rembug bijak.<br />
4.	Tindakan tersebut bukan tindakan kaum santri. Karena santri selalu diajarkan untuk memahami orang lain dengan sikap tasamuh (toleran), tawazun (berimbang) dan tawassuth (moderat).<br />
5.	Tindakan brutal tersebut adalah cermin tindakan golongan Khawarij pada masa awal-awal Islam yang sudah didakwa sesat oleh kalangan ulama’ ternama.</p>
<p>Oleh karena itulah, kami, Santri TBS, menghimbau beberapa hal kepada:<br />
1.	Pemerintah:<br />
Bubarkan FPI, karena selama ini ia tidak memberikan kontribusi kongkrit kepada kehidupan berbangsa dan bernegara kecuali keresahan, kekacauan dan stigma negatif terhadap citra Islam. Sebagai lembaga, ia sudah tidak berguna lagi dalam konteks keberagamaan Indonesia yang berasaskan hukum dan Pancasila.<br />
2.	Aparat Kepolisian:<br />
Tangkap para pelaku brutal FPI. Mereka tidak berhak lagi hidup bebas di alam terbuka. Mereka tak lain adalah penjahat berjubah yang berusaha menghancurkan citra Islam Indonesia. FPI sudah jelas main hakim sendiri. Tidak mau mematuhi aturan pemerintah. Melanggar Hak Asasi Manusia.<br />
3.	Gerakan Anshor, Garda Bangsa dan Barisan Serba Guna Nahdlatul Ulama’:<br />
Kencangkan tali, hadang kebrutalan preman berjubah itu demi menjaga keutuhan NKRI dan kehormatan agama. Jika tidak bisa bekerjasama dengan kepolisian, yang terkesan lamban dan membela FPI, maka tindakan represif perlu ditegaskan. FPI telah menyatakan perang di negara damai. Jelas ini sebuah penghinaan nyata bagi negara.<br />
4.	Ormas-ormas Islam, Lembaga Sosial dan Pendidikan:<br />
Hendaknya membentengi akidah dan keyakinan umat agar tidak terjerumus kepada pemikiran yang sempit, kaku dan ekslusif. Pelajaran tentang perlunya mempelajari budaya dan pemikiran orang lain serta memehaminya adalah sebuah keniscayaan untuk membangun kehidupan bangsa yang lebih beradab. Sikap ekslusif akan mengantarkan pada tirani-tirani dan menciptakan budaya primitif seperti kekerasan, pembunuhan serta menganggap diri paling benar.<br />
Secara kelembagaan, kami, Santri IKSAB TBS Semarang menyatakan bahwa FPI adalah termasuk golongan Khawarij yang sesat dan menyesatkan. Harus dilenyapkan dari kehidupan Islam, karena telah mencoreng nama Nabi yang terkenal santun dalam berdakwah.</p>
<p>Tertanda,<br />
Sekretaris IKSAB TBS Cabang Semarang</p>
<p>(M. Abdullah Badri)</p>
<p>Berikut komentar-komentar santri IKSAB tentang kebrutalan FPI:<br />
“Tindakan yang dilakukan FPI sangat biadab dan tidak mencerminkan Islam sama sekali,” Mishbah Khoiruddin.<br />
“inilah budaya bangsa yang masih primitif. Penyelesaian masalah melulu harus mengunakan kekerasan,” Tajuddin Arafat.<br />
“Nabi dan juga para drriyyahnya (keturunannya) tidak pernah memerintahkan kekerasan, kendati dalam keadaan yang sangat mendesak. FPI yang katanya ketuanya adalah keturunan Nabi telah jauh dari tindakan yang dianut para pendahulunya,” Naufal Baskara, santri Hafidz Al-Qur’an.<br />
“Sepertinya santri memang sudah saatnya memimpin. Sebab, jika dipimpin para preman berjubah yang dihasilkan pasti kekerasan,” Saifuddin Zuhri.<br />
“Walisongo berhasil menyebarkan Islam di bumi nusantara bukan dengan kekerasan, namun dengan wajah yang santun dan ramah. Tidak seperti FPI. Wajah Islam seperti itu adalah produk impor Timur Tengah yang masih kental dengan budaya kesukuan, suka berperang dan membunuh selain kelompoknya,” Hasan Bisri.<br />
“FPI tidak membawa Islam sebagai agama Rahmatan Lil Alamin, namun La’natan Lil Alamin (laknat untuk semesta),” Abu Nadhir.</p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/iksab1semarang.wordpress.com/16/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/iksab1semarang.wordpress.com/16/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/iksab1semarang.wordpress.com/16/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/iksab1semarang.wordpress.com/16/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/iksab1semarang.wordpress.com/16/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/iksab1semarang.wordpress.com/16/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/iksab1semarang.wordpress.com/16/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/iksab1semarang.wordpress.com/16/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/iksab1semarang.wordpress.com/16/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/iksab1semarang.wordpress.com/16/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/iksab1semarang.wordpress.com/16/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/iksab1semarang.wordpress.com/16/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=iksab1semarang.wordpress.com&blog=3614555&post=16&subd=iksab1semarang&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://iksab1semarang.wordpress.com/2008/06/03/bubarkan-fpi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/ce37657338ccb6d6d786c84dff8e56f8?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">iksab1semarang</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title></title>
		<link>http://iksab1semarang.wordpress.com/2008/05/21/15/</link>
		<comments>http://iksab1semarang.wordpress.com/2008/05/21/15/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 21 May 2008 03:14:14 +0000</pubDate>
		<dc:creator>iksab semarang</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel Lepas]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://iksab1semarang.wordpress.com/?p=15</guid>
		<description><![CDATA[مبادئ التعدّديةِ نحو الحياة الهادئةِ وذات المغزى
بقلم: أحمد تاج الدين عرفات
 
Abstraction:
Pluralism is a necessity, which every people have to have what kind of this principle. Pluralism is the symbol of tolerance and giving appreciation to others. Co-existence without any violence, scare or afraid is part of plurality. Finally, this is our time to live [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=iksab1semarang.wordpress.com&blog=3614555&post=15&subd=iksab1semarang&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p class="MsoNormal" style="text-align:center;direction:rtl;unicode-bidi:embed;" dir="rtl" align="center"><strong><span style="font-size:16pt;font-family:&quot;">مبادئ التعدّديةِ نحو الحياة الهادئةِ وذات المغزى</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;direction:rtl;unicode-bidi:embed;" dir="rtl" align="center"><strong><span style="font-size:14pt;font-family:&quot;">بقلم: أحمد تاج الدين عرفات</span></strong><strong><span style="font-size:14pt;" dir="ltr"></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-family:Georgia;">Abstraction:</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><em><span style="font-family:Georgia;">Pluralism is a necessity, which every people have to have what kind of this principle. Pluralism is the symbol of tolerance and giving appreciation to others. Co-existence without any violence, scare or afraid is part of plurality. Finally, this is our time to live together with love, peace and harmony. And this is our time to realize that we are truly and basically one ummah or one group from the big family.</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span style="font-size:14pt;" lang="IN"> </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;direction:rtl;unicode-bidi:embed;" dir="rtl"><strong><span style="font-size:14pt;font-family:&quot;">خلفية البحث</span></strong><strong><span style="font-size:14pt;" dir="ltr" lang="IN"></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;direction:rtl;unicode-bidi:embed;" dir="rtl"><strong><span style="font-size:14pt;" dir="ltr" lang="IN"><span> </span></span></strong><span style="font-size:14pt;font-family:&quot;">كل الإنسان جاعل فى الأرض كالخليفة. ومن بعض وظيفتها هي تنشيط روح التعدّدية فى صدور الأجيال و ابتداع التعايش الهادئ فى العالم. قد زعم معظم الناس بأن التعددية كثيرتها في مجال الكلام (</span><span style="font-size:14pt;" dir="ltr">theology</span><span style="font-size:14pt;font-family:&quot;">) التى تتحدّث عن حالة الأديان بالنسبة إلى حقيقتها واعتقادها. و قد شهدنا أن حقيقة الأديان واعتقادها تعلّمت حبّاً وسلامَا وإنسجامَا إلى الأتباعِ. ولذا هذا التعليم سيكون مبدأ و أساسا فى تنمية الحياة الدينية التى ذات المغزى القيّمة. وكل ذلك هو الهدف العظيم لكل الأديان فى سائر العالم.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;direction:rtl;unicode-bidi:embed;" dir="rtl"><span style="font-size:14pt;font-family:&quot;"><span> </span>هذا المقال سيسعى ان يكتشف المعنى المسكوت عنه فى سورة القصص:77 بالنسبة إلى هذا الموضوع، يعنى تحقيق </span><span style="font-size:14pt;font-family:&quot;">مبادئ التعدّديةِ نحو الحياة الهادئةِ وذات المغزى</span><span style="font-size:14pt;font-family:&quot;">. قال الله تعالى فى القرأن الكريم:</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;direction:rtl;unicode-bidi:embed;" dir="rtl" align="center"><strong><span style="font-size:16pt;font-family:&quot;">&#8221; </span></strong><strong><span style="font-size:16pt;font-family:&quot;color:black;">وَابْتَغِ فِيمَا آَتَاكَ اللَّهُ الدَّارَ الْآَخِرَةَ وَلَا تَنْسَ نَصِيبَكَ مِنَ الدُّنْيَا وَأَحْسِنْ كَمَا أَحْسَنَ اللَّهُ إِلَيْكَ</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;direction:rtl;unicode-bidi:embed;" dir="rtl" align="center"><strong><span style="font-size:16pt;font-family:&quot;color:black;"><span> </span>وَلَا تَبْغِ الْفَسَادَ فِي الْأَرْضِ إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ الْمُفْسِدِينَ &#8220;.</span></strong><strong><span style="font-size:16pt;font-family:&quot;"></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;direction:rtl;unicode-bidi:embed;" dir="rtl" align="center"><strong><span style="font-size:16pt;font-family:&quot;"> </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;direction:rtl;unicode-bidi:embed;" dir="rtl"><strong><span style="font-size:14pt;font-family:&quot;">تفسير المفردات</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;direction:rtl;unicode-bidi:embed;" dir="rtl"><strong><span style="font-size:14pt;font-family:&quot;"><span> </span></span></strong><span style="font-size:14pt;font-family:&quot;color:black;">{ وابتغ } اطلب { فِيمَآ آتَاكَ الله } بما أعطاك الله بالمال والثروة والغنى { الدار الآخرة } يعني الجنة { وَلاَ تَنسَ نَصِيبَكَ مِنَ الدنيا } لا تترك نصيبك من الآخرة بنصيبك من الدنيا ويقال لا تنقص نصيبك من الدنيا بما أنفقت وأعطيت للآخرة { وَأَحْسِن } إلى العباد والفقراء والمساكين { كَمَآ أَحْسَنَ الله إِلَيْكَ } بالمال { وَلاَ تَبْغِ الفساد فِي الأرض } لا تعمل بالمعاصي { إِنَّ الله لاَ يُحِبُّ المفسدين } بالظلم والبغي و بالمعاصي.<a name="_ftnref1" href="#_ftn1"><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-family:&quot;"><span dir="ltr"><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:14pt;color:black;">[1]</span></span><!--[endif]--></span></span></span></a></span><span style="font-size:14pt;color:black;"></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;direction:rtl;unicode-bidi:embed;" dir="rtl"><span style="font-size:14pt;font-family:&quot;color:black;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;direction:rtl;unicode-bidi:embed;" dir="rtl"><strong><span style="font-size:14pt;font-family:&quot;color:black;">أسباب النزول</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;direction:rtl;unicode-bidi:embed;" dir="rtl"><span style="font-size:14pt;font-family:&quot;"><span> </span>نزلت هذه الأية لإخبار قصة الرسول موسى عليه السلام و قارون الذى عنده الجاه والأموال. </span><span style="font-size:14pt;font-family:&quot;color:black;">وقد كان قارون موحّداً على دين إسرائيل ولكنه كان شاكّاً في صدق مواعيد موسى وفي تشريعاته. وقال الرازى: وفيه وجوه، أحدها : قال قتادة ومقاتل والكلبي : كان قارون أقرأ بني إسرائيل للتوراة فقال : إنما أوتيته لفضل علمي واستحقاقي لذلك، وثانيها : قال سعيد بن المسيب والضحاك : كان موسى عليه السلام أنزل عليه علم الكيمياء من السماء فعلم قارون ثلث العلم ويوشع ثلثه وكالب ثلثه فخدعهما قارون حتى أضاف علمهما إلى علمه فكان يأخذ الرصاص فيجعله فضة والنحاس فيجعله ذهباً، وثالثها : أراد به علمه بوجوه المكاسب والتجارات.</span><a name="_ftnref2" href="#_ftn2"><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:14pt;color:black;"><span dir="ltr"><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:14pt;color:black;">[2]</span></span><!--[endif]--></span></span></span></a><span style="font-size:14pt;font-family:&quot;"></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;direction:rtl;unicode-bidi:embed;" dir="rtl"><span style="font-size:14pt;font-family:&quot;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;direction:rtl;unicode-bidi:embed;" dir="rtl"><strong><span style="font-size:14pt;font-family:&quot;">البيان والتحليل</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-right:18.85pt;text-align:justify;text-indent:-18pt;direction:rtl;unicode-bidi:embed;" dir="rtl"><!--[if !supportLists]--><strong><span style="font-size:14pt;"><span>1.<span style="font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;font-family:&quot;"> </span></span></span></strong><!--[endif]--><span dir="rtl"><strong><span style="text-decoration:underline;"><span style="font-size:16pt;font-family:&quot;color:black;">وَابْتَغِ فِيمَا آَتَاكَ اللَّهُ الدَّارَ الْآَخِرَةَ</span></span></strong></span><strong><span style="text-decoration:underline;"><span style="font-size:16pt;font-family:&quot;color:black;"></span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-right:18.85pt;text-align:justify;direction:rtl;unicode-bidi:embed;" dir="rtl"><span style="font-size:14pt;font-family:&quot;color:black;">والمراد هو اطلب فيما أعطاك الله &#8211; تعالى &#8211; من أموال عظيمة ، ثواب الدار الآخرة ،بطريق إنفاق جزء من مالك فى وجوه الخير، كالإحسان إلى الفقراء والمحتاجين</span><a name="_ftnref3" href="#_ftn3"><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:14pt;color:black;"><span dir="ltr"><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:14pt;color:black;">[3]</span></span><!--[endif]--></span></span></span></a><span style="font-size:14pt;font-family:&quot;color:black;">.</span><strong><span style="font-size:14pt;font-family:&quot;color:black;"> </span></strong><span style="font-size:14pt;font-family:&quot;color:black;">والظاهر أنه كان مقراً بالآخرة ، والمراد أن يصرف المال إلى ما يؤديه إلى الجنة ويسلك طريقة التواضع.</span><a name="_ftnref4" href="#_ftn4"><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:14pt;color:black;"><span dir="ltr"><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:14pt;color:black;">[4]</span></span><!--[endif]--></span></span></span></a><span style="font-size:14pt;font-family:&quot;color:black;"> وابتغاء الدار الآخرة طلبها ، أي طلب نعيمها وثوابها . وعلق بفعل الابتغاء قوله { فيما ءاتاك الله } بحرف الظرفية ، أي اطلب بمعظمه وأكثره. والظرفية مجازية للدلالة على تغلغل ابتغاء الدار الآخرة في ما آتاه الله وما آتاه هو كنوز المال.</span><a name="_ftnref5" href="#_ftn5"><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:14pt;color:black;"><span dir="ltr"><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:14pt;color:black;">[5]</span></span><!--[endif]--></span></span></span></a><span style="font-size:14pt;color:black;"></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-right:18.85pt;text-align:justify;direction:rtl;unicode-bidi:embed;" dir="rtl"><span style="font-size:14pt;color:black;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-right:18.85pt;text-align:justify;direction:rtl;unicode-bidi:embed;" dir="rtl"><span style="font-size:14pt;font-family:&quot;color:black;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-right:18.85pt;text-align:justify;text-indent:-18pt;direction:rtl;unicode-bidi:embed;" dir="rtl"><!--[if !supportLists]--><strong><span style="font-size:14pt;" lang="IN"><span>2.<span style="font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;font-family:&quot;"> </span></span></span></strong><!--[endif]--><span dir="rtl"><strong><span style="text-decoration:underline;"><span style="font-size:16pt;font-family:&quot;color:black;">وَلَا تَنْسَ نَصِيبَكَ مِنَ الدُّنْيَا</span></span></strong></span><strong><span style="text-decoration:underline;"><span style="font-size:14pt;" dir="ltr" lang="IN"></span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-right:18.85pt;text-align:justify;direction:rtl;unicode-bidi:embed;" dir="rtl"><span style="font-size:14pt;font-family:&quot;color:black;">والنسيان كناية عن الترك كقوله في حديث الخيل « ولم ينس حق الله في رقابها ». والنصيب : الحظ والقسط، وإضافة النصيب إلى ضميره دالة على أنه حقه وأن للمرء الانتفاع بماله في ما يلائمه في الدنيا خاصة مما ليس من القربات ولم يكن حراماً . قال مالك : في رأيي معنى { ولا تنس نصيبك من الدنيا } تعيش وتأكل وتشرب غير مضيق عليك بأن تأخذ منه ما يكفيك ويصلحك.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-right:18.85pt;text-align:justify;direction:rtl;unicode-bidi:embed;" dir="rtl"><span style="font-size:14pt;font-family:&quot;color:black;">وقال قتادة : نصيب الدنيا هو الحلال كلّه . وبذلك تكون هذه الآية مثالاً لاستعمال صيغة النهي لمعنى الإباحة . و { من } للتبعيض . والمراد بالدنيا نعيمها . فالمعنى : نصيبك الذي هو بعض نعيم الدنيا<strong>.</strong></span><a name="_ftnref6" href="#_ftn6"><span class="MsoFootnoteReference"><strong><span style="font-size:14pt;color:black;"><span dir="ltr"><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><strong><span style="font-size:14pt;color:black;">[6]</span></strong></span><!--[endif]--></span></span></strong></span></a><strong><span style="font-size:14pt;font-family:&quot;color:black;"></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-right:18.85pt;text-align:justify;direction:rtl;unicode-bidi:embed;" dir="rtl"><span style="font-size:14pt;font-family:&quot;">قال الرازى: <span style="color:black;">وفيه وجوه أحدها : لعله كان مستغرق الهم في طلب الدنيا فلأجل ذلك ما كان يتفرغ للتنعم والالتذاذ فنهاه الواعظ عن ذلك</span></span><span style="font-size:14pt;font-family:&quot;color:black;">،</span><span style="font-size:14pt;font-family:&quot;color:black;"> وثانيها : لما أمره الواعظ بصرف المال إلى الآخرة بين له بهذا الكلام أنه لا بأس بالتمتع بالوجوه المباحة وثالثها : المراد منه الإنفاق في طاعة الله فإن ذلك هو نصيب المرء من الدنيا دون الذي يأكل ويشرب قال عليه السلام : « فليأخذ العبد من نفسه لنفسه ، ومن دنياه لآخرته ، ومن الشبيبة قبل الكبر ، ومن الحياة قبل الموت فوالذي نفس محمد بيده ما بعد الموت من مستعتب ولا بعد الدنيا دار إلا الجنة والنار ».</span><a name="_ftnref7" href="#_ftn7"><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:14pt;color:black;"><span dir="ltr"><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:14pt;color:black;">[7]</span></span><!--[endif]--></span></span></span></a><span style="font-size:14pt;font-family:&quot;color:black;"> </span><span style="font-size:14pt;font-family:&quot;">وقال ابن كثير: <span style="color:black;">{ وَلا تَنْسَ نَصِيبَكَ مِنَ الدُّنْيَا } أي: مما أباح الله فيها من المآكل والمشارب والملابس والمساكن والمناكح، فإن لربك عليك حقًّا، ولنفسك عليك حقًّا، ولأهلك عليك حقًّا، ولزورك عليك حقا، فآت كل ذي حق حقه.</span></span><a name="_ftnref8" href="#_ftn8"><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:14pt;color:black;"><span dir="ltr"><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:14pt;color:black;">[8]</span></span><!--[endif]--></span></span></span></a><span style="font-size:14pt;color:black;"></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-right:18.85pt;text-align:justify;text-indent:-18pt;direction:rtl;unicode-bidi:embed;" dir="rtl"><!--[if !supportLists]--><strong><span style="font-size:14pt;" lang="IN"><span>3.<span style="font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;font-family:&quot;"> </span></span></span></strong><!--[endif]--><span dir="rtl"><strong><span style="text-decoration:underline;"><span style="font-size:16pt;font-family:&quot;color:black;">وَأَحْسِنْ كَمَا أَحْسَنَ اللَّهُ إِلَيْكَ</span></span></strong></span><strong><span style="text-decoration:underline;"><span style="font-size:14pt;" dir="ltr" lang="IN"></span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-right:18.85pt;text-align:justify;direction:rtl;unicode-bidi:embed;" dir="rtl"><span style="font-size:14pt;font-family:&quot;color:black;">أى : وأحسن إلى عباد الله بأن تترك البغى عليهم ، وتعطيهم حقوقهم . مثل ما أحسن الله إليك بنعم كثيرة . قال الرازى : { وَأَحْسِن كَمَا أَحْسَنَ الله إِلَيْكَ } لما أمره بالإحسان بالمال أمره بالإحسان مطلقاً ويدخل فيه الإعانة بالمال والجاه وطلاقة الوجه وحسن اللقاء وحسن الذكر ، وإنما قال : { كَمَا أَحْسَنَ الله إِلَيْكَ } تنبيهاً على قوله : { لَئِن شَكَرْتُمْ لأَزِيدَنَّكُمْ } [ إبراهيم : 7 ].</span><a name="_ftnref9" href="#_ftn9"><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:14pt;color:black;"><span dir="ltr"><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:14pt;color:black;">[9]</span></span><!--[endif]--></span></span></span></a><span style="font-size:14pt;font-family:&quot;color:black;"> وقال ابن عاشور:{ كما أحسن الله إليك } والكاف للتشبيه ، و ( ما ) مصدرية ، أي كإحسان الله إليك ، والمشبه هو الإحسان المأخوذ من { أحسن } أي إحساناً شبيهاً بإحسان الله إليك . ومعنى الشبه : أن يكون الشكر على كل نعمة من جنسها . داخل في عموم ابتغاء الدار الآخرة.</span><a name="_ftnref10" href="#_ftn10"><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:14pt;color:black;"><span dir="ltr"><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:14pt;color:black;">[10]</span></span><!--[endif]--></span></span></span></a><span style="font-size:14pt;color:black;"></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-right:18.85pt;text-align:justify;text-indent:-18pt;direction:rtl;unicode-bidi:embed;" dir="rtl"><!--[if !supportLists]--><strong><span style="font-size:14pt;" lang="IN"><span>4.<span style="font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;font-family:&quot;"> </span></span></span></strong><!--[endif]--><span dir="rtl"><strong><span style="text-decoration:underline;"><span style="font-size:16pt;font-family:&quot;color:black;">وَلَا تَبْغِ الْفَسَادَ فِي الْأَرْضِ إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ الْمُفْسِدِينَ</span></span></strong></span><strong><span style="font-size:14pt;font-family:&quot;"><span> </span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-right:18.85pt;text-align:justify;direction:rtl;unicode-bidi:embed;" dir="rtl"><span style="font-size:14pt;font-family:&quot;">المعنى هو</span><span style="font-size:14pt;font-family:&quot;color:black;"> للتحذير من خلط الإحسان بالفساد فإن الفساد ضد الإحسان ، فالأمر بالإحسان يقتضي النهي عن الفساد وإنما نص عليه لأنه لما تعددت موارد الإحسان والإساءة فقد يغيب عن الذهن أن الإساءة إلى شيء مع الإحسان إلى أشياء يعتبر غير إحسان.</span><a name="_ftnref11" href="#_ftn11"><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:14pt;color:black;"><span dir="ltr"><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:14pt;color:black;">[11]</span></span><!--[endif]--></span></span></span></a><span style="font-size:14pt;font-family:&quot;color:black;"> والفساد في الأرض : ما كان عليه من الظلم والبغي.</span><a name="_ftnref12" href="#_ftn12"><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:14pt;color:black;"><span dir="ltr"><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:14pt;color:black;">[12]</span></span><!--[endif]--></span></span></span></a><span style="font-size:14pt;font-family:&quot;color:black;"> والمراد بالأرض أرضهم التي هم حالّون بها ، وإذ قد كانت جزءاً من الكرة الأرضية فالإفساد فيها إفساد مظروف في عموم الأرض . وقد تقدمت نظائره منها في قوله تعالى { وإذا تولى سعى في الأرض ليفسد فيها } في سورة [ البقرة : 205 ] . وجملة { إن الله لا يحب المفسدين } علة للنهي عن الإفساد ، لأن العمل الذي لا يحبه الله لا يجوز لعباده عمله، و{ إن الله لا يحب المفسدين } اى إن الله لا يحبّ بغاة البغي والمعاصي و لا يرضى فعلهم .</span><a name="_ftnref13" href="#_ftn13"><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:14pt;color:black;"><span dir="ltr"><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:14pt;color:black;">[13]</span></span><!--[endif]--></span></span></span></a><span style="font-size:14pt;font-family:&quot;color:black;"> والله تعالى أعلم .</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-right:18.85pt;text-align:justify;direction:rtl;unicode-bidi:embed;" dir="rtl"><span style="font-size:14pt;font-family:&quot;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;direction:rtl;unicode-bidi:embed;" dir="rtl"><strong><span style="font-size:14pt;font-family:&quot;">النتيجة</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;direction:rtl;unicode-bidi:embed;" dir="rtl"><strong><span style="font-size:14pt;font-family:&quot;"><span> </span></span></strong><span style="font-size:14pt;font-family:&quot;">من هذا البيان والتحليل، عرفنا أن هذه الأية و معناها محتوية على مبادئ التعددية التى لابد للناس ان يعلّمها و يحقّقها. والمثال منها هي المسابقة فى الخيرات و فعل الإحسان للغير</span><span style="font-size:14pt;" dir="ltr" lang="AR-SA"> </span><span style="font-size:14pt;font-family:&quot;">ودرء المفاسد و إنتشار السلامة والرحمة لسائر المخلوقات. قال أناند كريسنا (</span><span style="font-size:14pt;" dir="ltr" lang="IN">Anand Krishna</span><span style="font-size:14pt;font-family:&quot;">):&#8221; إنما نحن فى أرض واحدة وسماء واحدة وبشر واحد&#8221; وهذه هي صورة واضحة لتحقيق مبادئ التعدّدية فى أنحاء العالم. وبهذه التعدّدية سنعيش فى ضوء الحب والسلام والإنسجام الذى ليس هناك عنف ولا تمييز. عسى الله أن يعطينا قوّة لتحقيق هذه المبادئ القيّمة. والله أعلم بالصواب.<span> </span></span></p>
<div><!--[if !supportFootnotes]--></p>
<hr size="1" /><!--[endif]--></p>
<div id="ftn1">
<p class="MsoFootnoteText" style="text-align:right;direction:rtl;unicode-bidi:embed;" dir="rtl"><a name="_ftn1" href="#_ftnref1"></a><span class="MsoFootnoteReference"><span lang="AR-SA">1</span></span><span lang="AR-SA">. الفيروزأبادي، تنوير المقباس فى تفسير ابن عباس، ص:394، دار الفكر</span></p>
</div>
<div id="ftn2">
<p class="MsoFootnoteText" style="text-align:right;direction:rtl;unicode-bidi:embed;" dir="rtl"><a name="_ftn2" href="#_ftnref2"></a><span class="MsoFootnoteReference"><span lang="AR-SA">2</span></span><span lang="AR-SA">. الرازى،</span><span dir="ltr" lang="AR-SA"> </span><span lang="AR-SA">تفسير مفاتيح الغيب، ج:12، ص:110 </span></p>
</div>
<div id="ftn3">
<p class="MsoFootnoteText" style="text-align:right;direction:rtl;unicode-bidi:embed;" dir="rtl"><a name="_ftn3" href="#_ftnref3"></a><span class="MsoFootnoteReference"><span lang="AR-SA">3</span></span><span lang="AR-SA">. سيد طنطاوى، </span><span lang="AR-SA">الوسيط</span><span lang="AR-SA">، ج:1، ص:3287</span></p>
</div>
<div id="ftn4">
<p class="MsoFootnoteText" style="text-align:right;direction:rtl;unicode-bidi:embed;" dir="rtl"><a name="_ftn4" href="#_ftnref4"></a><span class="MsoFootnoteReference"><span lang="AR-SA">4. </span></span><span lang="AR-SA">الرازى, مفاتيح الغيب، ج: 12، ص:110</span></p>
</div>
<div id="ftn5">
<p class="MsoFootnoteText" style="text-align:right;direction:rtl;unicode-bidi:embed;" dir="rtl"><a name="_ftn5" href="#_ftnref5"></a><span class="MsoFootnoteReference"><span lang="AR-SA">5</span></span><span lang="AR-SA">. ابن عاشور. التحرير والتنوير، ج: 10، ص: 439</span></p>
</div>
<div id="ftn6">
<p class="MsoFootnoteText" style="text-align:right;direction:rtl;unicode-bidi:embed;" dir="rtl"><a name="_ftn6" href="#_ftnref6"></a><span class="MsoFootnoteReference"><span lang="AR-SA">6</span></span><span lang="AR-SA">. ابن عاشور، التحرير والتنوير، ج:10، ص:439-440</span></p>
</div>
<div id="ftn7">
<p class="MsoFootnoteText" style="text-align:right;direction:rtl;unicode-bidi:embed;" dir="rtl"><a name="_ftn7" href="#_ftnref7"></a><span class="MsoFootnoteReference"><span lang="AR-SA">7</span></span><span lang="AR-SA">. الرازى، مفاتيح الغيب، ج:12، ص:110</span></p>
</div>
<div id="ftn8">
<p class="MsoFootnoteText" style="text-align:right;direction:rtl;unicode-bidi:embed;" dir="rtl"><a name="_ftn8" href="#_ftnref8"></a><span class="MsoFootnoteReference"><span lang="AR-SA">8</span></span><span lang="AR-SA">. ابن كثير، تفسير القرأن العظيم، ج:6، ص:253-254</span></p>
</div>
<div id="ftn9">
<p class="MsoFootnoteText" style="text-align:right;direction:rtl;unicode-bidi:embed;" dir="rtl"><a name="_ftn9" href="#_ftnref9"></a><span class="MsoFootnoteReference"><span lang="AR-SA">9</span></span><span lang="AR-SA">. الرازى، مفاتيح الغيب، ج:12، ص:110</span></p>
</div>
<div id="ftn10">
<p class="MsoFootnoteText" style="text-align:right;direction:rtl;unicode-bidi:embed;" dir="rtl"><a name="_ftn10" href="#_ftnref10"></a><span class="MsoFootnoteReference"><span lang="AR-SA">1</span></span><span lang="AR-SA">0. ابن عاشور، التحرير والتنوير، ج:10، ص:440</span></p>
</div>
<div id="ftn11">
<p class="MsoFootnoteText" style="text-align:right;direction:rtl;unicode-bidi:embed;" dir="rtl"><a name="_ftn11" href="#_ftnref11"></a><span class="MsoFootnoteReference"><span lang="AR-SA">1</span></span><span lang="AR-SA">1. ابن عاشور، التحرير والتنوير، <span> </span>ج: 10، ص:440</span></p>
</div>
<div id="ftn12">
<p class="MsoFootnoteText" style="text-align:right;direction:rtl;unicode-bidi:embed;" dir="rtl"><a name="_ftn12" href="#_ftnref12"></a><span class="MsoFootnoteReference"><span lang="AR-SA">1</span></span><span lang="AR-SA">2. الزمخشري، الكشاف عن حقائق التنزيل وعيون الأقاول فى وجوه التأويل، ج:5، ص:174</span></p>
</div>
<div id="ftn13">
<p class="MsoFootnoteText" style="text-align:right;direction:rtl;unicode-bidi:embed;" dir="rtl"><a name="_ftn13" href="#_ftnref13"></a><span class="MsoFootnoteReference"><span lang="AR-SA">1</span></span><span lang="AR-SA">3. الطبري، جامع البيان فى تفسير القرأن، ج:19، ص:625 </span></p>
</div>
</div>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/iksab1semarang.wordpress.com/15/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/iksab1semarang.wordpress.com/15/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/iksab1semarang.wordpress.com/15/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/iksab1semarang.wordpress.com/15/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/iksab1semarang.wordpress.com/15/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/iksab1semarang.wordpress.com/15/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/iksab1semarang.wordpress.com/15/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/iksab1semarang.wordpress.com/15/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/iksab1semarang.wordpress.com/15/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/iksab1semarang.wordpress.com/15/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/iksab1semarang.wordpress.com/15/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/iksab1semarang.wordpress.com/15/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=iksab1semarang.wordpress.com&blog=3614555&post=15&subd=iksab1semarang&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://iksab1semarang.wordpress.com/2008/05/21/15/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/ce37657338ccb6d6d786c84dff8e56f8?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">iksab1semarang</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Santri Fundamental</title>
		<link>http://iksab1semarang.wordpress.com/2008/05/21/santri-fundamental/</link>
		<comments>http://iksab1semarang.wordpress.com/2008/05/21/santri-fundamental/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 21 May 2008 03:10:21 +0000</pubDate>
		<dc:creator>iksab semarang</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel Lepas]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://iksab1semarang.wordpress.com/2008/05/21/santri-fundamental/</guid>
		<description><![CDATA[Fundamentalisme Santri
Oleh: A. Tajuddin Arafat 
 Dalam dinamisasi Islam, muncul dua arus pemikiran yang bisa dikatakan berlawanan. Pertama, pemikiran fundamentalisme yang kini telah menjelma menjadi suatu gerakan yang lebih dekat anarkisme ketimbang aksi peace and love. Kedua, liberalisme Islam yang memiliki gaya berfikir bebas dengan misi agar Islam shalih li kulli zaman wal makan. Arus [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=iksab1semarang.wordpress.com&blog=3614555&post=14&subd=iksab1semarang&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><span style="font-size:14pt;font-family:Georgia;" lang="IN">Fundamentalisme Santri</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><span style="font-family:Georgia;" lang="IN">Oleh: A. Tajuddin Arafat</span><strong><span style="font-family:Georgia;" lang="IN"> </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-family:Georgia;" lang="IN"><span> </span>Dalam dinamisasi Islam, muncul dua arus pemikiran yang bisa dikatakan berlawanan. <em>Pertama</em>, pemikiran fundamentalisme yang kini telah menjelma menjadi suatu gerakan yang lebih dekat anarkisme ketimbang aksi <em>peace and love</em>. <em>Kedua</em>, liberalisme Islam yang memiliki gaya berfikir bebas dengan misi agar Islam <em>shalih li kulli zaman wal makan.</em> Arus pemikiran yang ditekuni para pemikir muda ini kadang kebablasan, sehingga kadang kelewat batas. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-family:Georgia;" lang="IN"><span> </span>Kedua arus pemikiran itu merupakan salah satu tantangan bagi eksistensi kaum santri dalam kontektualisasi ajaran agama yang telah dipelajarinya di pesantren dengan realitas kekinian. Santri yang notabenenya adalah agen sosial mempunyai peran penting dalam masyarakat, terutama dalam bidang keagamaan yang sekarang ini semakin dibutuhkan. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><span style="font-family:Georgia;" lang="IN">Dengan motto yang terkenal, yaitu: <em><span style="color:black;">al-muhâfazhah ‘ala al-qadîm al-shâlih wa al-akhdzu bi al-jadîd al-ashlah </span></em><span style="color:black;">(memelihara nilai-nilai lama yang masih relevan dan mengakomodir nilai-nilai baru yang lebih positif), sejarah santri akan menemukan relevansinya dengan perubahan zaman yang terus menerus terjadi</span>. Tuntutan untuk menyesuaikan diri, beradaptasi dengan lingkungan menjadi hal yang tidak bisa ditawar-tawar lagi, jika santri ingin tetap diakui eksistensinya.<span> </span><span> </span></span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Georgia;" lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><strong><span style="font-family:Georgia;" lang="IN">Fundamentalisme<span> </span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-family:Georgia;" lang="IN"><span> </span>Menurut Karen Amstrong, fundamentalisme pada dasarnya tidak muncul dalam perjalanan sejarah agama Islam saja, tetapi juga dalam agama samawi (Nasrani dan Yahudi) dan agama timur (Budha, Hindu, Zoraster, Sinto dll.). dalam sejarahnya, fundamentalisme agama merupakan gambaran atas keinginan kuat sebuah pemeluk agama untuk kembali ke ajaran dasar agama, dan upaya untuk melestarikannya kembali. Namun sayang, pemahaman untuk kembali ke ajaran dasar yang sesungguhnya, sebagaimana yang terlihat dalam dua dekade terakhir, terkadang melampaui batas kewajaran. Sehingga, upaya untuk melestarikan ajaran agama yang diyakini itu harus menggunakan kekerasan. Padahal, tidak ada satu ajaran agama pun yang mengajarkan tentang kekerasan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-family:Georgia;" lang="IN"><span> </span>Istilah fundamentalisme sendiri sebenarnya tidak dikenal dalam Islam. Istilah ini dikenalkan Barat untuk menyebut kelompok Islam kanan-murni yang dituduh telah menebarkan teror dan ancaman dalam masyarakat dunia, terutama pasca tragedi 11 september 2001. Barat beranggapan bahwa Islam mengajarkan radikalisme, anrkisme dan kekerasan kepada orang lain. Stigma nagatif yang dibangun Barat atas Islam itulah yang kemudian melahirkan anggapan bahwa Islam adalah agama yang teroris, menakutkan dan mengerikan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-family:Georgia;" lang="IN"><span> </span>Perlu dibedakan pula antara istilah “fundamentalisme” dan “radikalisme”. Keduanya sangat berbeda walaupun berasal dari akar kata yang berarti sama, yakni berbicara tentang sesuatu yang pokok atau dasar. Fundamentalisme merupakan suatu keyakinan untuk kembali ke pokok-pokok ajaran agama. Bisa dikonotasikan positif maupun negatif, tergantung sudut pandang masing-masing.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-family:Georgia;" lang="IN"><span> </span>Fundamentalisme merupakan sebuah pandangan teologis atau pemahaman keagamaan dimana seseorang mendasarkan seluruh pandangan-pandangan dunianya, nilai-nilai hidupnya dan spiritualnya pada ajaran eksplisit agama. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-family:Georgia;" lang="IN"><span> </span>Kata fundamentalisme, jika di terjemahkan ke dalam bahasa Arab adalah <em>al-ushuliyah</em> atau <em>as-salafiyyah,</em> walaupun dalam hal ini M. Abid al-Jabiri kurang sependapat. Dalam keilmuan klasik Islam, istilah <em>ushul</em> digunakan untuk <em>ushul fiqh</em> atau <em>ushul al-din</em>, yang jelas jauh dari permasalahan politik atau sosial tertentu. Sementara, terma <em>as-salafiyyah</em> lebih identik dengan corak pemahaman keagamaan yang dilakukan para ulama’ terdahulu (<em>salaf as-shalih</em>) yang juga pernah dipakai sebuah gerakan <em>salafiyah </em>pada era Imam Ahmad ibn Hanbal dan kemudian berkembang sampai zaman Ibnu Taimiyah dan Ibnu Qayyim al-Jauzi hingga Muhammad Abdul Wahab (wahabiyah), al-Afghani, Muhammad Abduh dan Rasyid Ridha di abad 20.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-family:Georgia;" lang="IN"><span> </span>Pemaparan sederhana diatas sedikit mengarah pada sebuah kesimpulan bahwa istilah fundamentalisme telah mengalami pematokan, pelebaran dan penyempitan makna. Istilah tersebut sempat dipatok untuk <em>fenomena </em>salafiyah sejak Ibnu Hanbal sampai al-Afghani, kemudian dilebarkan untuk semua gerakan pemurnian Islam. Lalu disempitkan untuk gerakan muslim radikal, literal atau garis keras. Sehingga dalam perkembanganya, gerakan ini lebih banyak dikaitkan dengan berbagai persoalan sosio-politik kontemporer yang sedang berkembang saat ini. <em>In the last</em>, seharusnya gerakan fundamentalisme Islam berjalan seiring dengan perkembangan zaman yang berjalan serasi dengan perkembangan peradaban umat manusia yang dinamis.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-family:Georgia;" lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span style="font-family:Georgia;" lang="IN">Membangun Fundamentalisme Santri </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-family:Georgia;" lang="IN"><span> </span>Islam yang <em>rahmatan lil ‘alamin</em><strong> </strong>merupakan perwujudan dari nilai-nilai universal yang terkandung dalam pokok ajaran Islam, yakni Al-Qur’an maupun Al-Hadits. Nilai yang mengedepankan keharmonisan, <em>kekhusyu’an </em>dan kemaslahatan bagi semua. Sehingga nilai-nilai itulah yang seharusnya diambil dan kemudian berusaha dipahami oleh umat manusia pada umumnya, dan umat Islam pada khususnya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-family:Georgia;" lang="IN"><span> </span>Dalam hal ini, posisi santri sangat diperhitungkan. Karena dalam pola pikir santri, sebuah pengabdian dan penghayatan terhadap ajaran agama merupakan pondasi awal dalam menapaki keberlangsungan hidup di dunia ini. Tradisi santri mengatakan bahwa agama mengajarkan semua tentang kehidupan dan keberlangsungan setelah mati. Sehingga ada semacam garis lurus yang membentang diantara hidup di dunia dengan hidup kelak di akhirat.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-family:Georgia;" lang="IN"><span> </span>Tradisi lain dari santri yang layak perhatikan adalah adanya usaha dalam mengamalkan apa yang mereka ketahui. Karena dalam pandangannya, apa guna ilmu bila tanpa di aplikasikan dalam kehidupan. Dari sini bisa dilihat akan adanya rasa bertanggung jawab atas apa yang telah dimengerti dan dipahami ketika mempelajari agama. <strong>Sehingga pemahaman santri terhadap ajaran agama seperti inilah yang dinamakan fundamentalisme agama ala santri.</strong></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-family:Georgia;" lang="IN"><span> </span>Fundamentalisme santri yang dibangun dalam bingkai pengamalan terhadap ajaran agama dan mencari maslahat untuk umat inilah yang merupakan bentuk dari kelompok yang mengedepankan asas keimanan dan kemanusian dalam berperilaku. Posisi fundamentalisme santri dalam hal ini bukanlah tengah-tengah (moderat), karena sikap moderat bila dipandang dari sudut yang kanan akan menjadi kiri dan begitupun sebaliknya bila dipandang dari sisi kiri akan menjadi kanan. Sehingga lebih pantasnya, <em>fundamentalisme santri merupakan bangunan kecil dari apa yang disebut</em> <strong><em>ummatan wasathon</em></strong><em> </em>dalam al-Qur’an, yakni umat yang mengedepankan keadilan, kemaslahatan dan bijak dalam bertindak. Walhasil, membangun fundamentalisme ala santri merupakan sesuatu yang perlu dipikirkan kembali untuk menjamin tatanan kehidupan menjadi lebih baik dan tujuan-tujuan (<em>al-ghoyah</em>) dalam beragama menjadi realistis.[ab]</span></p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/iksab1semarang.wordpress.com/14/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/iksab1semarang.wordpress.com/14/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/iksab1semarang.wordpress.com/14/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/iksab1semarang.wordpress.com/14/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/iksab1semarang.wordpress.com/14/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/iksab1semarang.wordpress.com/14/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/iksab1semarang.wordpress.com/14/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/iksab1semarang.wordpress.com/14/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/iksab1semarang.wordpress.com/14/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/iksab1semarang.wordpress.com/14/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/iksab1semarang.wordpress.com/14/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/iksab1semarang.wordpress.com/14/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=iksab1semarang.wordpress.com&blog=3614555&post=14&subd=iksab1semarang&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://iksab1semarang.wordpress.com/2008/05/21/santri-fundamental/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/ce37657338ccb6d6d786c84dff8e56f8?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">iksab1semarang</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Persinggungan Tradisi NU dan Syi&#8217;ah</title>
		<link>http://iksab1semarang.wordpress.com/2008/05/09/persinggungan-tradisi-nu-dan-syiaah/</link>
		<comments>http://iksab1semarang.wordpress.com/2008/05/09/persinggungan-tradisi-nu-dan-syiaah/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 09 May 2008 12:28:04 +0000</pubDate>
		<dc:creator>iksab semarang</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel Lepas]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://iksab1semarang.wordpress.com/?p=10</guid>
		<description><![CDATA[ 
العلا قة بين حضارة الشيعة وجمعية نهضة العلماء
إعداد:محمد عبد الله بدرى
الباب الأول
المقدمة
 ‌أ- خلفية المسئلة
 ان ظهور الإختلاف في كل فرقة من فرق الإسلامية, لاسيما في إندونيسيا, دينيا كان (من الفروعات والإعتقادات) أو إجتماعيا (من امر الثقفية والسياسية) بالغة الاهمية للدراسة, منذ أوائل القرن التاسع عشر ظهر منظمة المحمدية الحاملة فهم التجديدى ومنظمة نهضة [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=iksab1semarang.wordpress.com&blog=3614555&post=10&subd=iksab1semarang&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p class="MsoNormal" dir="rtl"><span style="font-size:14pt;font-family:Garamond;"><span> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" dir="rtl" align="center"><strong><span style="font-size:18pt;">العلا قة بين حضارة الشيعة وجمعية نهضة العلماء</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" dir="rtl" align="center"><span style="font-size:16pt;">إعداد:محمد عبد الله بدرى</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" dir="rtl" align="center"><strong><span style="font-size:18pt;">الباب الأول</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" dir="rtl" align="center"><strong><span style="font-size:18pt;">المقدمة</span></strong><strong></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-right:36pt;text-align:justify;text-indent:-36pt;" dir="rtl"><!--[if !supportLists]--><strong><span style="font-family:Garamond;color:black;"><span><span> </span>‌أ-<span> </span></span></span></strong><!--[endif]--><span dir="rtl"><strong><span style="font-size:14pt;">خلفية المسئلة</span></strong></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;" dir="rtl"><span style="font-size:14pt;"><span> </span>ان ظهور الإختلاف في كل فرقة من فرق الإسلامية, لاسيما في إندونيسيا, دينيا كان (من الفروعات والإعتقادات) أو إجتماعيا (من امر الثقفية والسياسية) بالغة الاهمية للدراسة, منذ أوائل القرن التاسع عشر ظهر منظمة المحمدية الحاملة فهم التجديدى ومنظمة نهضة العلماء الموكلة فهم التقليدى. والتاريخ يدل أن كلا من هتين المنظمتين يتخاصمون فى أمر الدينية. جاءت المحمدية لإزالت البدع والحرفات من المسلمين. ثم نقدها النهضيون بأن المسلمين لايعملون البدع او الحرفات, بل يطابقون باالشريعة</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;" dir="rtl"><span style="font-size:14pt;"><span> </span>التوسل بالأنبياء اوالأولياء جائز عند النهضيين, والمحمديون يقولون أنه شرك لآن التوسل يورث وجود الإلهين. وكذلك حفلة مولد النبى صلى الله عليه وسلم با التحميد والامداح للنبي قال المحمديون من البدع, لانها لاتوجد في حياة النبي, قال النبي&#8221; من أحدث فى أمرنا هذا ما ليس منه فهو رد&#8221;<a name="_ftnref1" href="#_ftn1"><span class="MsoFootnoteReference"><span><span dir="ltr"><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:14pt;font-family:Garamond;color:black;">[1]</span></span><!--[endif]--></span></span></span></a> هذا ما قالواه.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;" dir="rtl"><span style="font-size:14pt;"><span> </span>حتي الآن فى أمور الفرعيات بين النهضين والمحمديين لايتفقون فى عدد ركعات صلاة التراويح وأول الشوال, والناس يفهمون ان منبع الإختلاف لاختلافهم فى منهج إستنباط الحكم للقرآن والحديث. وأما الإعتقادات من أمر التوحيد فأقل, هم يتفقون أن الله واحد والرسول صلى الله عليه وسلم أسوة عظيمة حسنة متبع فى جميع أقواله وأفعاله.وهو معصوم, والإختلاف بينهم موقوف فى الفروعات فحسب.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;" dir="rtl"><span style="font-size:14pt;"><span> </span>إذا نقذ المحمديون افعال المسلمين المعدومة فى حياة النبي صلى الله عليه وسلم كمولده, وحرمة يوم عاشوراء بادعاءهم إنهما من البدع وليس من الرسول فلا بد لنا أن نبحث من أين أخذ علماء النهضيين هذه العادة مع أنهم يتمسكون بسنة النبي. هتين العادتين اى حفلة المولد وحرمة يوم عاشراء كما قال بعض همامن الشيعة, وقال قوم أن علماء النهضين أخذ هذه العادة من الشيعة؟؟ هذا ما سيبحثه هذه المقالة.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;" dir="rtl"><span style="font-size:14pt;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-right:36pt;text-align:justify;text-indent:-36pt;" dir="rtl"><!--[if !supportLists]--><strong><span style="font-family:Garamond;color:black;"><span><span> </span>‌ب-<span> </span></span></span></strong><!--[endif]--><span dir="rtl"><strong><span style="font-size:14pt;">منهج البحث</span></strong></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;" dir="rtl"><span style="font-size:14pt;"><span> </span>فى هذه المقالة نعمل منهج التاريخي من حيث ان هذا المنهج يعاون لطلب الصورة الكلية فى فهم الشيعة من أول منشإه وتطور أفكاره. فبعد ان نعرف صورة الشيعة نقارن بين افكاره وحضاراته بأفكار وحضارة منظمة نهضة العلماء, نقيد ونأخذ حضارتين فحسب, وهما حفلة مولد النبي وحرمة يوم عاشرآء.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;" dir="rtl"><span style="font-size:14pt;">بطريقة التاريخي والمقارنة سيحصل لنا فهم هل النهضيون أخذوا هتين العادتين من الشيعة وكيف طريقتها إذا يدل الحال كذلك؟؟</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;" dir="rtl"><span style="text-decoration:underline;"><span style="font-size:14pt;"><span style="text-decoration:none;"> </span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-right:36pt;text-align:justify;text-indent:-36pt;" dir="rtl"><!--[if !supportLists]--><strong><span style="font-family:Garamond;color:black;"><span><span> </span>‌ج-<span> </span></span></span></strong><!--[endif]--><span dir="rtl"><strong><span style="font-size:14pt;">أهداف البحث</span></strong></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-right:72pt;text-align:justify;text-indent:-18pt;" dir="rtl"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:14pt;font-family:Garamond;color:black;"><span>1)<span> </span></span></span><!--[endif]--><span dir="rtl"><span style="font-size:14pt;">لمعرفة هل النهضيون أخذوا حضارة حفلة النبي وحرمة يوم عاشرآء من الشيعة؟.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-right:72pt;text-align:justify;text-indent:-18pt;" dir="rtl"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:14pt;font-family:Garamond;color:black;"><span>2)<span> </span></span></span><!--[endif]--><span dir="rtl"><span style="font-size:14pt;">ان كان النهضيون قد أخذوا من الشيعة, فكيف طريقتها؟.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-right:36pt;text-align:justify;text-indent:-36pt;" dir="rtl"><!--[if !supportLists]--><strong><span style="font-family:Garamond;color:black;"><span><span> </span>‌د-<span> </span></span></span></strong><!--[endif]--><span dir="rtl"><strong><span style="font-size:14pt;">الكتب المستعمله</span></strong></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;" dir="rtl"><span style="font-size:14pt;"><span> </span>قد تكتب كتب كثيرة التى بحثت عن الشيعة وجمعية نهضة العلماء, ألف الأشعرى كتابا جيدا فى بيان أفكار فرق الإسلامية وهو المسمى باالمقالات الإسلاميين واختلاف المصلين, واتبعه الشهرستانى بكتابه الملل والنحل, وكذلك صاحب جذورالفتنة بين الفرق الإسلامية هو اللواء حسن صادق, وألف علي مصطفى الغربى تاريخ الفرق الإسلامية وكذلك تاريخ مذاهب الإسلامية لدكتورإمام محمد ابو زهرة. وألف من جهة النهضيون محمد شعرانى أحمدى قدس بكتابه الفرائد السنية. وكذلك الف سراج الدين عباس عقيدة أهل السنة والجماعة.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;" dir="rtl"><span style="font-size:14pt;"><span> </span>ليعاون فى بحثنا هذا طلبنا كتبا أصلية شيعية كان او نهضية, منها مجموعة موالد وادعية وإسلام شيعة للطبا طبائي.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;" dir="rtl"><span style="font-size:14pt;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" dir="rtl" align="center"><strong><span style="font-size:18pt;">الباب الثانى</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" dir="rtl" align="center"><strong><span style="font-size:18pt;">البحث</span></strong><strong></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" dir="rtl" align="center"><strong><span style="font-size:14pt;"> </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-right:36pt;text-align:justify;text-indent:-36pt;" dir="rtl"><!--[if !supportLists]--><strong><span style="font-family:Garamond;color:black;"><span><span> </span>‌أ-<span> </span></span></span></strong><!--[endif]--><span dir="rtl"><strong><span style="font-size:14pt;">نشأة الشيعة وأفكاره</span></strong></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;" dir="rtl"><span style="font-size:14pt;"><span> </span>بعث محمد صلى الله عليه وسلم للناس رحمة للعالمين, ولد فىالجاهلية ويبعث<span> </span>ليهدىالناس إلى طريق مستقيم. من يكون جاهلا من قبل صار عالما بعد بعثته ومن يكون متخاصما-كما وقع فى الجاهلية- صاروا متراحما واتحادا فى نفس واحد, يعنى الإسلام, وهذا ما حصل النبي فى حياته. ينور الظلم ومنقذ الضلال.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;" dir="rtl"><span style="font-size:14pt;"><span> </span>الإسلام فى حياة النبي إسلام واحد, تراحم بين المسلمين وغيرهم وحيوا فى بيعة واحدة يعنى الإسلام, ولكن بعد ماتوفي النبى صلى الله عليه وسلم إختلف الناس -أى الصحابة- فى أمر من سيخالف بعده. وذلك إجتمعت الأنصار فى سقيفة بنى ساعدة بمدينة الرسول صلى الله عليه وسلم. وأرادوا عقد الإمامة سعد بن عبادة وبلغ ذلك ابا بكر وعمر -رضوان الله عليهما- فقصدا نحو مجتمع الأنصار فى رجال من المهاجرين, فاعلمهم ابو بكر أن الإمامة لاتكون إلا من قريش, واحتج عليهم بقول النبى صلى الله عليه وسلم: &#8220;الإمامة من قريش&#8221; فأذعنوا لذلك منقادين, ورجعوا الى الحق طائعين ثم بايعوا أبا بكر رضى الله عنه واجتمعوا على إمامته واتفقوا على خلافته<a name="_ftnref2" href="#_ftn2"><span class="MsoFootnoteReference"><span><span dir="ltr"><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:14pt;font-family:Garamond;color:black;">[2]</span></span><!--[endif]--></span></span></span></a>, وحينئذ لا تختلف الأمة فى الإمامة. وكذلك اذا اخلف عمر ابا بكر, لم يقع فيه اختلاف الى ان ولىعثمان بن عفان. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;" dir="rtl"><span style="font-size:14pt;">انكر قوم بخلافة عثمان حتى قتل وارتفع علي –كرم الله وجهه- خليفةَ.َ ثم طلب عنه قوم ((معاوية وعائشة)) ان يقتل قاتل عثمان, لكن علي لايباليه حتىوقع غزوة الجمل بين علي وعائشة وغزوة الصفين بينه ومعاوية, بعد وقع هذه الحادثة عقِب التحكيم بين علي ومعاوية حتى غلب علي عنه.</span></p>
<p class="MsoFootnoteText" style="text-align:justify;text-indent:36pt;direction:rtl;unicode-bidi:embed;margin:0 0 0.0001pt;" dir="rtl"><span style="font-size:14pt;">و</span><span style="font-size:14pt;">اشتد الخلاف بين المسلمين من ذلك حين</span><span style="font-size:14pt;"> إختلافا شديدا, وهذا الحرب </span><span style="font-size:14pt;">يدل على هلكة الاخوة الإسلامية</span><span style="font-size:14pt;"> من هنا بدا ان سبب الإختلاف</span><span style="font-size:14pt;"> بين المسلمين</span><span style="font-size:14pt;"> بعد وفاة الرسول هو الإمامة. وكان من خرج من تولية علي وادعائه عن الخلافة ويكفره يسمى الخوارج, ومن شايعوه وولّواه بخلافته يسمى با الشيعة. قال الإمام الأشعرى:&#8221;</span><span style="font-size:14pt;"> : &#8220;إنما قيل لهم الشيعة، لأنهم شايعوا علياً &#8211; رضوان الله عليه &#8211; ويقدمونه على سائر أصحاب رسول الله صلى الله عليه وسلم</span><span style="font-size:14pt;">&#8220;, ويعرف الشهرستانى فى كتابه الملل والنحل</span><span style="font-size:14pt;">: &#8220;الشيعة هم الذين شايعوا علياً- رضي الله عنه &#8211; على الخصوص، وقالوا بإمامته وخلافته نصاً ووصية، إما جلياً، وإما خفياً، واعتقدوا أن الإمامة لا تخرج من أولاده، وإن خرجت فبظلم يكون من غيره، أو بتقية من عنده. وقالوا: ليست الإمامة قضية مصلحية تناط باختيار العامة وينتصب الإمام بنصبهم، بل هي قضية أصولية، وهي ركن الدين لا يجوز للرسل عليهم السلام إغفاله وإهماله، ولا تفويضه إلى العامة وإرساله. ويجمعهم القول بوجوب التعيين والتنصيص، وثبوت عصمة الأنبياء والأئمة وجوباً عن الكبائر والصغائر. والقول بالتولي والتبري قولاً وفعلاً وعقداً إلا في حال التقية، ويخالفهم بعض الزيدية في ذلك&#8221;.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;" dir="rtl"><span style="font-size:14pt;"><span> </span>وكل فرقة من الشيعة إما من الغلاة او الإمامية او الزيدية يفضلون عليا وبعضهم الّهوه, وعلى الإجمال هم يتفقون على وجوب إعتقاد الإمامة والعصمة والتقية ولو تقديرهم على إمامته غير سواء. بعضهم يجعلون إلها وهم الغلاة او الغالية </span><span style="font-size:14pt;">و</span><span style="font-size:14pt;"> بعضهم</span><span style="font-size:14pt;"> يساويه فى درجة النبي, وهذا الفهم يأثر إلى تقديس علي وذريته لأن الإمامة عندهم من امر الوراثة لا من إتفاق المسلمين, فإذن ذرية علي هم الذى يستحقون الإمامة بعد وفاتهم, لذا كرمهم الشيعة.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;" dir="rtl"><span style="font-size:14pt;"><span> </span>ومن حال اكرامهم إمامهم عليا وذريته (ذرية النبي) هو زيادة كلمة &#8221; وأشهد أن عليا ولي الله&#8221; فى الآذان والتطهير عند زيارة قبر الإمام وغير ذلك. ومن اكرامهم النبي وذريته هو التشعير والأمداح عند حفلة النبي , قال الديبعى:</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" dir="rtl" align="center"><span style="font-size:14pt;">ولنا خير الأنام اب # وعلي المرتضى حسب</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" dir="rtl" align="center"><span style="font-size:14pt;">وإلى السبطين ننتسب # نسبا ما فيه من دخن</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" dir="rtl" align="center"><span style="font-size:14pt;">كم إمام بعده خلفوا # منه سادات بذا عرفوا</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" dir="rtl" align="center"><span style="font-size:14pt;">وبهذا الوصف قد وصفوا # من قديم الدهر والزمن</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" dir="rtl" align="center"><span style="font-size:14pt;">مثل زين العابدين علي # وابنه الباقر خير ولى</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" dir="rtl" align="center"><span style="font-size:14pt;">والإمام الصادق الحفل # وعلي ذى العلا اليقن</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" dir="rtl" align="center"><span style="font-size:14pt;">فهـم القوم الذين هدو # وبفضل الله قد سعدو<a name="_ftnref3" href="#_ftn3"><span class="MsoFootnoteReference"><span><span dir="ltr"><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:14pt;font-family:Garamond;color:black;">[3]</span></span><!--[endif]--></span></span></span></a></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;" dir="rtl"><span style="font-size:14pt;">وقيل فى شرف الأنام:</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" dir="rtl" align="center"><span style="font-size:14pt;">السلام عليك # زين الأنبياء</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" dir="rtl" align="center"><span style="font-size:14pt;">السلام عليك # أحمد ياحبيبى</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" dir="rtl" align="center"><span style="font-size:14pt;">السلام عليك # ياماحى الذنوب<a name="_ftnref4" href="#_ftn4"><span class="MsoFootnoteReference"><span><span dir="ltr"><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:14pt;font-family:Garamond;color:black;">[4]</span></span><!--[endif]--></span></span></span></a></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;" dir="rtl"><span style="font-size:14pt;"><span> </span>من نظم الأول المذكور يكتب فيه بعض من أسماء أئمة الشيعة وهم علي زين العابدين ثم الباقر ثم الجعفر الصادق قائم الشيعة الإمامية. كل من هؤلآء خير ولى وذو العلا اليقين عند الشيعة.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;" dir="rtl"><span style="font-size:14pt;"><span> </span>ومن اكرامهم أيضا لإمامهم هوحزنهم ليوم مات فيه حسين فى <em>كربلا</em> وهويوم العاشرمن المحرم, وهم حينئذ يقرؤن الأشعار وآية القرآن والخطبة التى تبين حزن حياة إمامهم وهو المسمى <em>بالروضةالخانى. </em>وكذلك التعزية يعنى التغنى والبكاء والضرب على نفوسهم بآلات مؤذية.<a name="_ftnref5" href="#_ftn5"><span class="MsoFootnoteReference"><span><span dir="ltr"><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:14pt;font-family:Garamond;color:black;">[5]</span></span><!--[endif]--></span></span></span></a></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;" dir="rtl"><span style="font-size:14pt;"><span> </span>من هذين الحالين – الإكرام فى المولد والحزن فى يوم عاشورآء- مكافيان ليدلا على ان الشيعة – من ناحية الإكرام لأهل البيت- قد عادوا عن حدود احكام الإسلامية, بل فى بعض اشعارهم يقارب إلى الشرك كما قد سبق.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;" dir="rtl"><span style="font-size:14pt;"><span> </span>والمسئلة الآن لماذا منظمة نهضةالعلماء- اى النهضيون- يسلكون طريق الشيعة فى مولد النبى وكذلك, قال بعض, يسلكون فى أمرحرمة يوم عاشورآء مع أنهم يدعون من أهل السنة والجماعة؟؟. قبل أن نبحث هذه المسئلة فلابدلنا ان نعرف حول منظمة نهضةالعلماء من تاريخه وأفكاره.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-right:36pt;text-align:justify;text-indent:-36pt;" dir="rtl"><!--[if !supportLists]--><span style="font-family:Garamond;color:black;"><span><span> </span>‌ب-<span> </span></span></span><!--[endif]--><span dir="rtl"><span style="font-size:14pt;">منظمة نهضةالعلماء</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;" dir="rtl"><span style="font-size:14pt;">قامت جمعية نهضة العلماء فى 1926م. والذى يقوم بها هو العلامة هاشم اشعرى, وادعت اول القيام ان هذه المنظمة تسلك منهج علماء اهل السنه والجماعة, وفى امر الإجتماعية يتمسكون –اى النهضيون- بطريقة التوازن والتوسط والتعادل, ويحافظون على القديم الصالح والأخذ بالجديد الأصلح. ومرجو هذه الجماعة ان يحفظوا عادة المحلى من المسلمين, ولوكان بعض الناس , حينئذ, يقولون شركا. المثال منها زيارةالقبور بالتوسل والتهليل وحفلة مولد النبى وغيرها من البدع او الحرفات عندهم.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:18pt;" dir="rtl"><span style="font-size:14pt;"><span> </span>حتى الآن, العادة التى حفظها النهضيون مازالت موجودا, بل تطورت بمرور الزمان كحفلة مولد النبي. هذه الحادثة (او البدعة) زادت كثرتها من يوم إلى يوم. لايزال دائما هيّئه المسلمون ولوكان بعض الناس يعادونهم, لاسيما فى شهر ربيع الأول او شهر المولد كثرت فيه حفلة مولد النبي. كان الناس يدعون من الحبائب –اى ذرية النبي- ليباركوهم فيه او ليكون مخاطبا لهم او ليقرؤن تاريخ النبي.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;" dir="rtl"><span style="font-size:14pt;"><span> </span>وكان كتاب المولد كالبرزنجى والديبعى وكتاب سمط الدررللعلوى غير متروك عن القراءة, والناس يقرؤن ويمدحون النبي مع القارئ من الحبائب-من ذرية النبي, هذه العادة لاشك أنها تساوى حال الشيعة كما قدسبق بيانه, والذى يدل على أن ذلك هوالكتاب الذى يستعملون الشيعة والنهضيون على سواء يعنى الديبعى والبرزنجى. قال بعض ان هذين العالِمَين من الشيعة فلا عجب اذا ظهر فى مؤلفات كل منهماتمديح وتقديس لعلي بل يقارب الى الوهِيّة علي كرم الله وجهه. , من هذا ظهر لنا ان عادة مولد النبي فى النهضيين تساوي الشيعة.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;" dir="rtl"><span style="font-size:14pt;"><span> </span>ومن عادةالنهضيين اخرى هو حرمة يوم العاشر من المحرم, قيل:</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;" dir="rtl"><span style="font-size:14pt;"><span> </span>صم صلّ صل زرعالماعد واكتحل # دع سوء ظن زد شريفا للكرم</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;" dir="rtl"><span style="font-size:14pt;">يعنى فى يوم عاشورآء نؤمر بالصوم والصلاة وصلة الرحم وزيارة عالم وعيادة المريض والإكتحال وحسن الظن حتى ننال كرامة. وقيل أيضاً, قال النبي: عن بن عباس&#8221;من اكتحل بالإثمد يوم عاشوراء لم ترمد عينه أبدا&#8221;,<a name="_ftnref6" href="#_ftn6"><span class="MsoFootnoteReference"><span><span dir="ltr"><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:14pt;font-family:Garamond;color:black;">[6]</span></span><!--[endif]--></span></span></span></a> وقال أيضا: &#8220;من وسع على عياله فىالنفقة يوم عاشوراء وسع الله عليه سائرسنته&#8221;,<a name="_ftnref7" href="#_ftn7"><span class="MsoFootnoteReference"><span><span dir="ltr"><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:14pt;font-family:Garamond;color:black;">[7]</span></span><!--[endif]--></span></span></span></a> وذلك لأن الله تعالى اغرق الدنيا بالطوفان فلم يبق إلا سفينة نوح بمن فيها فرد عليهم دنياهم يوم عاشوراء وامروا بالهبوط للتأهب للعيال فى أمر معاشههم بسلام وبركات. هذه مااستدل واحتج علماء النهضيين ليحرموا وليكرموا يوم عاشوراء كأنه أفضل من يوم نزول القرآن. من أين اخذوا هذه الأدلة؟ هل من أحاديث الشيعة ام غيرهم؟.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;" dir="rtl"><span style="font-size:14pt;"><span> </span>قال المَجد اللغوي فى فضل صوم يوم عاشوراء والصلاة فيه والانفاق<span style="text-decoration:underline;"> </span>والخضاب والادهان والاكتحال بدعة ابتدعها قتلة الحسين رضى الله عنه. وفى القنية للحنفية الإكتحال يوم عاشوراء لماصار علامة لبغض اهل البيت وجب تركه. وقال أيمن صالح شعبان فى جامع الأصول للشيبانى ان توسعة العيال يوم عاشوراء حديث لا سند له, وكذلك حديث الإكتحال وهو ضعيف. ويقارب هذه البيان ان الأحاديث المذكورة لعلها جاءت ممن بغض اهل البيت, لأن حفل النبي سيدنا حسين فى هذااليوم قتلت مظلما ليزيد ابن معاوية. دل البيان على ان النهضيين لا يأخذون هذه الأحاديث من الشيعة بل عدوهم الذى بغض اهل البيت.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;" dir="rtl"><span style="font-size:14pt;"><span> </span>والمسئلة الآن, لماذا حالة حضارة النهضيين متضاد من جهتين بين ان يأخذوا الشيعة فى حب اهل البيت بتعقيدهم حفلة مولد النبي وقرآءة الأشعار والامداح وبين ان يأخذوا عدوهم فى حرمة يوم عاشوراء من الإكتحال والصوم والصلاة وغير ذلك مما لا سندله؟. وهذا تحتاج إلى التحليل.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-right:36pt;text-align:justify;text-indent:-36pt;" dir="rtl"><!--[if !supportLists]--><span style="font-family:Garamond;color:black;"><span><span> </span>‌ج-<span> </span></span></span><!--[endif]--><span dir="rtl"><span style="font-size:14pt;">التحليل</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-right:4.15pt;text-align:justify;text-indent:31.85pt;" dir="rtl"><span style="font-size:14pt;">فى الباب القديم له مشكلتان بين الشيعة وحضارة جمعية نهضة العلماء. <em>الأول</em>, ادعى<em><span style="text-decoration:underline;"> </span></em>النهضييون انهم يتمسكون طريقة أهل السنه والجماعة المعروف باعتدالهم وتوسطهم ولايكفر الصحابة ولا يشبهم ولا يقدس عليا –كرم الله وجهه- وذريته من أئمةالشيعة ولكن فى بعض الأحيان (اى حفلة النبى)قرءوا شعرا يقارب إلى الشرك. <em>والثانى, </em>إعترفوا النهضيون بحب النبي صلىالله عليه وسلم فى حفلتهم مولده ولكن احيانا (اى فى حرمة يوم عاشوراء) فعلوا خلاف ذلك. الإكتحال والصوم والصلاة فى هذا اليوم دليل على بغض اهل البيت كما قد بيناه.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-right:18pt;text-align:justify;" dir="rtl"><span style="font-size:14pt;"><span> </span>أما المشكلة الأولى جارت عند النهضيين لأن التوسل عندهم جائز بالإجماع, قال تعالى: ياأيها الذين آمنوا اتقواالله وابتغوا إليه الوسيلة (المائدة: 35), وقال النبي: &#8220;توسلوابى وبأهل بيتى فإنه لايرد متوسل بنا, رواه إبن حبان, وقال الشافعى:</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-right:18pt;text-align:center;" dir="rtl" align="center"><span style="font-size:14pt;">آل النبي ذريعتى # وهمو اليه وسيلتى</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;" dir="rtl"><span style="font-size:14pt;">هذه الأدلة هى التى يتمسكون بها النهضيون. إذن, الاشعار والأمداح الحامل الوسيلة فلابأس عندهم. هذا هو ما حصلنا من تحليل هذه المشكلة.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;" dir="rtl"><span style="font-size:14pt;"><span> </span>أما المشكلة الثانية فعل النهضيون لانهم يأخذون افضلية الأعمال ولو كانت الاحاديث اوالآثار الواردة تدل على ضعفه, والأهم عندهم الأعمال لا بمنطوق البراهين من الاحاديث اوالآثار. الإكتحال سنة النبي ولوكان يوضع فى يوم عاشوراء. لايبالون بعاشورآء. الأهم هو فعل الإكتحال.اهـ</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;" dir="rtl"><span style="font-size:14pt;"><span> </span>التوسل عند اكثرالشيعة جائز وأحب إليهم ان يأخذوابالعملى ليس بالمنطوقى. واتبعه النهضيون لأن أول من حمل الإسلام فى إندونيسيا هم ((والى سونجو)) كلهم- إلا رادين شاهد اى سونان كاليجوكو- من ذرية أئمة الشيعة يعنى ابن الباقر. من هنا نعرف ان دخول حضارة الشيعة فى المسلمين مقارن بدخول دعوة والى سونجو فى إندونيسيا.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;" dir="rtl"><span style="font-size:14pt;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" dir="rtl" align="center"><strong><span style="font-size:18pt;">الباب الثالث</span></strong><strong></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" dir="rtl" align="center"><strong><span style="font-size:18pt;"> </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-right:36pt;text-align:justify;text-indent:-36pt;" dir="rtl"><!--[if !supportLists]--><strong><span style="font-family:Garamond;color:black;"><span><span> </span>‌أ-<span> </span></span></span></strong><!--[endif]--><span dir="rtl"><strong><span style="font-size:14pt;">الخلاصة</span></strong></span><strong></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-right:18pt;text-align:justify;" dir="rtl"><span style="font-size:14pt;">بعد ان نبحث كل منهما بين الشيعة ونهضة العلماء, حصل ما طلبنا من قبل بمنهج التاريخى والمقارنة:</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-right:72pt;text-align:justify;text-indent:-18pt;" dir="rtl"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:14pt;font-family:Garamond;color:black;"><span>1)<span> </span></span></span><!--[endif]--><span dir="rtl"><span style="font-size:14pt;">النهضيون أخذوا ادلة حفلة النبى صلى الله عليه وسلم من الشيعة ولكن فى امرحرمة يوم عاشوراء ليس منهم بل ممن بغض اهل البيت أو عدوالشيعة الذى قتل حسين بن علي.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-right:72pt;text-align:justify;text-indent:-18pt;" dir="rtl"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:14pt;font-family:Garamond;color:black;"><span>2)<span> </span></span></span><!--[endif]--><span dir="rtl"><span style="font-size:14pt;">اخذ النهضيون حضارة الشيعة فى أمرحفلة النبي بدخول(والى سونجو) فى إندونيسيا, وأما فىحرمة يوم عاشورآء نالوا من عدوالشيعة ويعاملونه لان العمل عند النهضيين أهم ولوكانت الآثار تدل على ضعفه كما فعله الصوفيون. و والى سونجو من علماء الصوفية ويسلكون طريقة التصوف, وهذا هوالسبب حتى يقبلوا شيأ من الخارج سهلا وكان النهضيون ظهروا قانونهم فى التوسط والتسامح.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;" dir="rtl"><strong><span style="font-size:14pt;font-family:Garamond;color:black;"> </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-right:36pt;text-align:justify;text-indent:-36pt;" dir="rtl"><!--[if !supportLists]--><strong><span style="font-family:Garamond;color:black;"><span><span> </span>‌ب-<span> </span></span></span></strong><!--[endif]--><span dir="rtl"><strong><span style="font-size:14pt;">المهمات</span></strong></span><strong></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-right:4.15pt;text-align:justify;text-indent:31.85pt;" dir="rtl"><span style="font-size:14pt;">الخلاضة التىقد قدمناه لابد من ان تقبل التغيرات, لأن تحصيلها يحتاج الى بحث اعمق ممابحثناهذا. والنصيحة للنهضيين ان يتمسكوا بتوسطهم مع التعمق فى اطباق منهج اهل الحديث ةالمؤرخين لكى يكون حجتهم حجة بالغة عميقة حتى احتجوا بالأحاديث الصحيحة. والله أعلم.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;" dir="rtl"><span style="text-decoration:underline;"><span style="font-size:14pt;"><span style="text-decoration:none;"> </span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;" dir="rtl"><span style="text-decoration:underline;"><span style="font-size:14pt;"><span style="text-decoration:none;"> </span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" dir="rtl" align="center"><strong><span style="font-size:18pt;">المصادر والمراجع</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;" dir="rtl"><span style="font-size:14pt;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-right:18pt;text-align:justify;text-indent:24.1pt;" dir="rtl"><span style="font-size:14pt;">القرآن الكريم</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-right:18pt;text-align:justify;text-indent:24.1pt;" dir="rtl"><span style="font-size:14pt;">الشهرستانى, <em>الملل والنحل</em>, بيروت لبنان, دارالفكر, 2005 م </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-right:18pt;text-align:justify;text-indent:24.1pt;" dir="rtl"><span style="font-size:14pt;">اللواء حسن صادق, <em>جذور الفتنة بين الفرق الإسلامية</em>, القاهرة, مكتبة مدبولى, الطبعة الأولى, 2004م.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-right:18pt;text-align:justify;text-indent:24.1pt;" dir="rtl"><span style="font-size:14pt;">على مصطفى الغربي, <em>تاريخ الفرق الإسلامية</em>, المصر, مكتبة الأنجلو, الطبعة الثانية, 1985م.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-right:18pt;text-align:justify;text-indent:24.1pt;" dir="rtl"><span style="font-size:14pt;">الأشعرى, <em>مقالات الإسلاميين</em>, المصر, مكتبة النهضة, الطبعة الثانية, 1969 م</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-right:18pt;text-align:justify;text-indent:24.1pt;" dir="rtl"><span style="font-size:14pt;">إسماعيل بن محمد الجعلونى الجراحى, <em>كشف الخفاء</em>, لبنان, دارالكتب العلمية, الجزء الأول والثانى.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-right:18pt;text-align:justify;text-indent:24.1pt;" dir="rtl"><span style="font-size:14pt;">شعرانى احمدى, محمد, <em>الفرائد السنية والدرر البهية</em>, قدس, منارا قدس.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-right:18pt;text-align:justify;text-indent:24.1pt;" dir="rtl"><span style="font-size:14pt;">عبد الرؤف المناوي, محمد, <em>فيض القدير شرح جمع الصغير</em>, لبنان, دارالكتب العلمية, الجزء السادس.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-right:18pt;text-align:justify;text-indent:24.1pt;" dir="rtl"><span style="font-size:14pt;">الشيبانى, امام مجدالدين, <em>جامع الأصول فى أحاديث الرسول</em>, لبنان, دارالكتب العلمية, الجزء التاسع.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-right:18pt;text-align:justify;text-indent:24.1pt;" dir="rtl"><em><span style="font-size:14pt;">مجموعة موالد وأدعية</span></em><span style="font-size:14pt;">, سمارانج, طه فوترا.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-right:18pt;text-align:justify;text-indent:24.1pt;" dir="rtl"><span style="font-size:14pt;">النواوى, <em>الأحاديث الاربعين النووية.</em></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:28.05pt;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr"><span style="font-size:14pt;" dir="rtl"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:28.05pt;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr"><span style="color:black;">Assa&#8217;di, Sa&#8217;dullah, Drs. MA, <em>Hadis-Hadis Sekte</em>, Yogyakarta; Pustaka pelajar, 1996</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:28.05pt;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr"><span style="color:black;">Abu zahrah, Imam Muhammad, PROF. DR, <em>Aliran Politik Dan Aqidah Dalam Islam,</em> diterjemahkan dari &#8220;<em>Tarikh Madzahib Al Islamiyah</em>&#8221; oleh Abd. Rahman dan Ahmad Qarib, Jakarta: Logos,1996.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:28.05pt;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr"><span style="color:black;">Thaba&#8217; Thoba’I, Allamah, <em>Shi&#8217;ite Islam</em>, Houston: Free Islamic Literature,1979.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:28.05pt;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr"><span style="font-size:14pt;" dir="rtl"> </span></p>
<p class="MsoNormal" dir="rtl"><span dir="ltr"> </span></p>
<div><!--[if !supportFootnotes]--><br />
<hr size="1" /><!--[endif]--></p>
<div id="ftn1">
<p class="MsoFootnoteText" style="text-align:right;text-indent:36pt;direction:rtl;unicode-bidi:embed;margin:0 0 0.0001pt;" dir="rtl"><a name="_ftn1" href="#_ftnref1"><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:11pt;" dir="ltr"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:11pt;">[1]</span></span><!--[endif]--></span></span></span></a><span style="font-size:11pt;" dir="ltr"> </span><span style="font-size:11pt;">الحديث الخامس <span style="color:black;">من الأحاديث الاربعين النووية</span></span></p>
</div>
<div id="ftn2">
<p class="MsoFootnoteText" style="text-align:right;text-indent:36pt;direction:rtl;unicode-bidi:embed;margin:0 0 0.0001pt;" dir="rtl"><a name="_ftn2" href="#_ftnref2"><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:11pt;" dir="ltr"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:11pt;">[2]</span></span><!--[endif]--></span></span></span></a><span style="font-size:11pt;" dir="ltr"> </span><span style="font-size:11pt;">مقالات الإسلاميين للاشعرى, ص 41</span></p>
</div>
<div id="ftn3">
<p class="MsoFootnoteText" style="text-align:right;text-indent:36pt;direction:rtl;unicode-bidi:embed;margin:0 0 0.0001pt;" dir="rtl"><a name="_ftn3" href="#_ftnref3"><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:11pt;" dir="ltr"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:11pt;">[3]</span></span><!--[endif]--></span></span></span></a><span style="font-size:11pt;" dir="ltr"> </span><span style="font-size:11pt;">مجموعة موالد وادعية</span><span style="font-size:11pt;"> ص 4.</span></p>
</div>
<div id="ftn4">
<p class="MsoFootnoteText" style="text-align:right;text-indent:36pt;direction:rtl;unicode-bidi:embed;margin:0 0 0.0001pt;" dir="rtl"><a name="_ftn4" href="#_ftnref4"><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:11pt;" dir="ltr"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:11pt;">[4]</span></span><!--[endif]--></span></span></span></a><span style="font-size:11pt;" dir="ltr"> </span><span style="font-size:11pt;">مجموعة موالد وادعية</span><span style="font-size:11pt;"> ص98</span></p>
</div>
<div id="ftn5">
<p class="MsoFootnoteText" style="text-align:right;text-indent:36pt;direction:rtl;unicode-bidi:embed;margin:0 0 0.0001pt;" dir="rtl"><a name="_ftn5" href="#_ftnref5"><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:11pt;" dir="ltr"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:11pt;">[5]</span></span><!--[endif]--></span></span></span></a><span style="font-size:11pt;" dir="ltr"> </span><span style="font-size:11pt;">إسلام شيعة للطبا طبائي ص271</span></p>
</div>
<div id="ftn6">
<p class="MsoFootnoteText" style="text-align:right;text-indent:36pt;direction:rtl;unicode-bidi:embed;margin:0 0 0.0001pt;" dir="rtl"><a name="_ftn6" href="#_ftnref6"><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:11pt;" dir="ltr"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:11pt;">[6]</span></span><!--[endif]--></span></span></span></a><span style="font-size:11pt;" dir="ltr"> </span><span style="font-size:11pt;"><span> </span>كشف الخفاء لإسماعيل بن محمد الجعلونى الجراحى</span><span style="font-size:11pt;"> ص234.</span></p>
</div>
<div id="ftn7">
<p class="MsoFootnoteText" style="text-align:right;text-indent:36pt;direction:rtl;unicode-bidi:embed;margin:0 0 0.0001pt;" dir="rtl"><a name="_ftn7" href="#_ftnref7"><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:11pt;" dir="ltr"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:11pt;">[7]</span></span><!--[endif]--></span></span></span></a><span style="font-size:11pt;" dir="ltr"> </span><span style="font-size:11pt;">جامع الأصول فى أحاديث الرسول إمام مجدالدين الشيبانى, </span><span style="font-size:11pt;">ص 242.</span></p>
</div>
</div>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/iksab1semarang.wordpress.com/10/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/iksab1semarang.wordpress.com/10/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/iksab1semarang.wordpress.com/10/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/iksab1semarang.wordpress.com/10/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/iksab1semarang.wordpress.com/10/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/iksab1semarang.wordpress.com/10/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/iksab1semarang.wordpress.com/10/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/iksab1semarang.wordpress.com/10/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/iksab1semarang.wordpress.com/10/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/iksab1semarang.wordpress.com/10/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/iksab1semarang.wordpress.com/10/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/iksab1semarang.wordpress.com/10/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=iksab1semarang.wordpress.com&blog=3614555&post=10&subd=iksab1semarang&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://iksab1semarang.wordpress.com/2008/05/09/persinggungan-tradisi-nu-dan-syiaah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/ce37657338ccb6d6d786c84dff8e56f8?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">iksab1semarang</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Keragaman Tafsir</title>
		<link>http://iksab1semarang.wordpress.com/2008/05/06/keragaman-tafsir/</link>
		<comments>http://iksab1semarang.wordpress.com/2008/05/06/keragaman-tafsir/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 06 May 2008 13:01:09 +0000</pubDate>
		<dc:creator>iksab semarang</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel Lepas]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://iksab1semarang.wordpress.com/?p=9</guid>
		<description><![CDATA[Tirani dalam Keragaman Tafsir
Oleh: M. Abdullah Badri
 Keragaman tafsir yang ada dalam Islam jika tidak di sikapi dengan bijak dan arif sudah pasti akan menimbulkan gesekan sosial. Demikian karena Islam tidak bisa dilepaskan dari kekayaan dan keragaman interpretasi para ulama’. Bahkan, ruh Islam berada pada semangat mencari kebenaran yang terartikulasi dalam kekayaan interpretasi. Itu bisa [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=iksab1semarang.wordpress.com&blog=3614555&post=9&subd=iksab1semarang&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><strong><span style="font-size:11pt;font-family:Georgia;">Tirani dalam Keragaman Tafsir</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><span style="font-size:11pt;font-family:Georgia;">Oleh: M. Abdullah Badri</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;font-family:Georgia;"> Keragaman tafsir yang ada dalam Islam jika tidak di sikapi dengan bijak dan arif sudah pasti akan menimbulkan gesekan sosial. Demikian karena Islam tidak bisa dilepaskan dari kekayaan dan keragaman interpretasi para ulama’. Bahkan, ruh Islam berada pada semangat mencari kebenaran yang terartikulasi dalam kekayaan interpretasi. Itu bisa ditunjukkan dengan dilahirkannya beberapa karya literatur sarjana muslim dalam berbagai bidang. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:27pt;"><span style="font-size:11pt;font-family:Georgia;">Kita bisa melihat, ketika membicarakan al-Qur’an, Islam kaya dengan ragam tafsir dari kaum cerdas cendekianya, sesuai sudut pandang dan latar belakang pendidikan dan kondisi sosial-politik masing-masing.<span> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:27pt;"><span style="font-size:11pt;font-family:Georgia;">Ada</span><span style="font-size:11pt;font-family:Georgia;"> yang mengkaji al-Qur’an dari sudut pandang sastra, seperti Tafsirnya al-Zamakhsary, seorang ulama’ Mu’tazilah. Ada pula yang membidik Sains al-Qur’an, seperti yang ditulis Thantawi Jauhari dan Harun Yahya. Karya tafsir yang paling banyak adalah yang mengkaji dari sudut panjang sosial, seperti karya mufassir reformis-kontemporer semisal Muhammad Abduh, Rasyid Ridla, dan di Indonesia ada Hamka dan Quraish Syihab.<span> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:27pt;"><span style="font-size:11pt;font-family:Georgia;">Dari disiplin ilmu yurispundensi Islam, atau yang biasa disebut Ilmu Fiqih, kita akan disuguhkan khazanah Islam yang lebih kaya lagi. Bahkan saking kayanya akan interpretasi dalam bidang ini, ada sebuah adagium terkenal dikalangan Ulama’ Ahli Fiqh (<em>Fuqaha’</em>), salah satunya yang terkenal adalah <em>La Fiqha Illa fihi ikhtilaf</em> (Tidak dikatakan fiqh jika tidak ada perselisihan). Seakan menandakan bahwa rumus ilmu fiqh adalah perselisihan. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:27pt;"><span style="font-size:11pt;font-family:Georgia;">Dikatakan pula bahwa konsistensi fiqh ada pada inkonsistensinya. Sebab ia selalu <em>up to date</em>, disesuaikan dengan latar zaman dan lingkungan. Dulu, pada zaman kolonial, memakai celana dan jas berdasi mendapat fatwa haram dari para ulama’ karena menyerupai orang-orang Kristen Kolonial-Belanda yang menindas rakyat. Namun larangan itu kini tidak berlaku lagi. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:27pt;"><span style="font-size:11pt;font-family:Georgia;">Alasan fatwa haram itu sudah hilang semenjak kaum penjajah terusir dari Indonesia. Fatwa haram dikeluarkan untuk menumbuhkan rasa nasionalisme bangsa Indonesia demi mengusir Belanda. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:27pt;"><span style="font-size:11pt;font-family:Georgia;">Islam tidak mengatur secara khusus dalam berbusana. Hanya memberi batasan umum bahwa yang diperlukan dalam berbusana adalah menutup aurat. Adapun model dan jenisnya ditentukan sesuai adat sekitar yang berlaku. Disinilah, keragaman tafsir dari ketentuan-ketentuan umum dalam Islam menjadi hal yang tak terelakkan. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;font-family:Georgia;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span style="font-size:11pt;font-family:Georgia;">Menghargai Perbedaan</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;font-family:Georgia;"><span> </span>Islam sangat menghargai perbedaan. Setiap orang berhak memiliki penafsiran tentang Islam sesuai dengan latar belakang masing-masing. Tidak ada yang berhak menghegemoni satu pemahaman tertentu. Kekuasaan tunggal dalam penafsiran hanya akan melahirkan tirani-tirani. Sehingga, pengelolaan akan perbedaan menjadi penting agar tidak terjadi hegemoni tafsir. Pengelolaan Islam akan perbedaan itu bisa kita saksikan dalam jargon <em>Ikhtilaful Aimmah Rahmah</em> (Perselisihan Para Imam adalah Rahmat). <span> </span><span> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><span style="font-size:11pt;font-family:Georgia;">Mengenai tafsir atau interpretasi, dalam triodik Hermenutika Nasr Hamid Abu Zaid yang terdiri atas Tujuan, Teks dan Tafsir, menjelaskan bahwa eksistensi teks berdiri secara penuh, tidak ada intervensi dari pengarang maupun penafsir. Karena, tujuan dari pengarang bisa jadi berbeda dengan interpretasi penafsir. Artinya, kepentingan teks disini bukan semata-mata ditentukan oleh pengarang, namun juga penafsir. Tentu, sesuai dengan kepentingan dan latar belakang pengalaman dan pemahaman dari penafsir, bukan dari pengarang. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><span style="font-size:11pt;font-family:Georgia;">Dengan leluasa penafsir menginterpretasi teks yang ada dihadapannya, kendati jauh dari yang dimaksudkan pengarang. Disinilah kepentingan penafsiran dapat dibaca. Lepasnya pengarang dari teks yang telah ditulis pada akhirnya mengakibatkan keragaman pemahaman yang tidak bisa dihindari dari banyak penafsir. Tidak yang dapat kita lakukan disini kecuali mengahargai, demi menghindari konflik. <span> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;font-family:Georgia;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span style="font-size:11pt;font-family:Georgia;">Tirani Tafsir</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><span style="font-size:11pt;font-family:Georgia;">Ahmadiyah, Lia Eden dan al-Qiyadah, begitu juga dengan komunitas lain yang berbeda pemahaman dengan kelompok mayoritas, berusaha menafsirkan teks utama Islam demi mencari kebenaran. Namun usaha mereka ketika mencapai kesimpulan yang berbeda, terjadi tirani. Atribut sesat, kafir dan murtad dilekatkan kepada mereka. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><span style="font-size:11pt;font-family:Georgia;">Pertanyaannya adalah, apakah penafsiran Ahmadiyah, Lia Eden, Al-Qiyadah dkk. merupakan kepentingan atau sekedar mencari kebenaran dari ketidakpuasan mereka terhadap agama konvensional yang selama ini mereka ikuti? Sulit membedakan. Sangat tipis perbedaannya, antara kepentingan<span> </span>dan pemahaman. Tidak bisa diposisikan diametral. Dan memang tidak perlu.<span> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><span style="font-size:11pt;font-family:Georgia;">Yang perlu kita lakukan adalah mencoba menghargai dan memahami mereka. Toh mereka juga sama-sama dalam rangka mencari kebenaran, meskipun dibalut kepentingan “luar”. Mempermasalahkan mereka hanya akan membuang energi. Biarkan saja. Waktu yang akan menentukan. Diterima masyarakat atau tidak. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><span style="font-size:11pt;font-family:Georgia;">Selama tidak bertendensi politik untuk merenggut keutuhan NKRI tidak ada alasan untuk merepresi mereka. Karena penafsiran teologis itu sangat privatif, pribadi. Tidak ada hak bagi siapapun untuk merenggut hak mereka, termasuk negara. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><span style="font-size:11pt;font-family:Georgia;">Sebaliknya, yang perlu diwaspadai adalah kelompok radikal yang cenderung mengancam keutuhan NKRI dengan melakukan kekerasan, baik fisik maupun simbolik, kepada golongan yang berbeda paham dengan mengatasnamakan Tuhan. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><span style="font-size:11pt;font-family:Georgia;">Hanya golongan seperti HTI, MMI, FPI dkk. yang menginginkan tafsir seragam. Mereka itulah yang akan membangun tirani dalam demokratisasi kehidupan berbangsa. Merekalah yang tidak mampu memahami dengan bijak keragaman tafsir dalam Islam, sehingga sering menimbulkan kekacauan sosial yang justru memperburuk citra Islam sendiri. <span> </span></span></p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/iksab1semarang.wordpress.com/9/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/iksab1semarang.wordpress.com/9/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/iksab1semarang.wordpress.com/9/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/iksab1semarang.wordpress.com/9/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/iksab1semarang.wordpress.com/9/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/iksab1semarang.wordpress.com/9/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/iksab1semarang.wordpress.com/9/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/iksab1semarang.wordpress.com/9/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/iksab1semarang.wordpress.com/9/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/iksab1semarang.wordpress.com/9/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/iksab1semarang.wordpress.com/9/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/iksab1semarang.wordpress.com/9/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=iksab1semarang.wordpress.com&blog=3614555&post=9&subd=iksab1semarang&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://iksab1semarang.wordpress.com/2008/05/06/keragaman-tafsir/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/ce37657338ccb6d6d786c84dff8e56f8?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">iksab1semarang</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Ketika &#8220;Rumah Tuhan&#8221; Dihancurkan</title>
		<link>http://iksab1semarang.wordpress.com/2008/05/05/ketika-rumah-tuhan-dihancurkan/</link>
		<comments>http://iksab1semarang.wordpress.com/2008/05/05/ketika-rumah-tuhan-dihancurkan/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 05 May 2008 02:12:12 +0000</pubDate>
		<dc:creator>iksab semarang</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel Lepas]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://iksab1semarang.wordpress.com/?p=7</guid>
		<description><![CDATA[Ketika “Rumah Tuhan” Tak Diagungkan
Oleh: Marsam H. S. 
 
“Pakaian kebangsaan kita. Harga diri nasionalisme kita tersobek-sobek oleh tradisi penindasan, oleh tradisi kebodohan, oleh tradisi keserakahan yang tidak habis-habis. Dondomono, jlumatono kanggo sebo mengo sore. Harus kita jahit kembali, harus kita benahi lagi, harus kita utuhkan kembali agar supaya kita siap untuk menghadap ke masa [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=iksab1semarang.wordpress.com&blog=3614555&post=7&subd=iksab1semarang&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p class="MsoNormal" style="margin-right:27pt;text-align:center;" align="center"><strong><span style="font-size:12pt;font-family:Georgia;">Ketika “Rumah Tuhan” Tak Diagungkan</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-right:27pt;text-align:center;" align="center"><span style="font-size:10pt;font-family:Georgia;">Oleh: Marsam H. S. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0 27pt 0.0001pt;"><span style="font-size:10pt;font-family:Georgia;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0 27pt 0.0001pt;"><span style="font-size:10pt;font-family:Georgia;">“Pakaian kebangsaan kita. Harga diri nasionalisme kita tersobek-sobek oleh tradisi penindasan, oleh tradisi kebodohan, oleh tradisi keserakahan yang tidak habis-habis. <em>Dondomono, jlumatono kanggo sebo mengo sore</em>. Harus kita jahit kembali, harus kita benahi lagi, harus kita utuhkan kembali agar supaya kita siap untuk menghadap ke masa depan,” </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:12pt;font-family:Georgia;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:27pt;"><span style="font-size:12pt;font-family:Georgia;">Demikian Budayawan Emha Ainun Najib memberikan gambaran betapa bangsa kita belum siap mengerti dan memahami masalahnya sendiri. Belum tahu beda antara demokrasi dan anarki. Ya, nilai kehidupan beragama kita kembali tercoreng dengan sikap arogansi para “Tentara Tuhan” yang menghancurkan masjid Jamaah Ahmadiyah Indonesia (JAI) beberapa waktu belakangan ini. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:27pt;"><span style="font-size:12pt;font-family:Georgia;">Masjid –dan juga tempat-tempat suci lain- yang dalam bahasa Al-Qur’an disebut sebagai syiar-syiar Islam dibakar atas nama Tuhan. Praktis, rumah Tuhan itu hangus beserta tanda-tanda keagungannya. Tak ada lagi suara adzan yang bergema disana. Hanya tangisan dan ratapan kesedihan akibat tradisi penindasan dan kekerasan dalam beragama. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:27pt;"><span style="font-size:12pt;font-family:Georgia;">Alangkah malang nasib yang menimpa saudara kita dari Ahmadiyah. Pasca fatwa MUI yang menyatakan sesatnya Ahmadiyah beberapa bulan lalu, disusul dengan rencana pembubaran Ahmadiyah belum lama ini, muslimin yang tergabung dalam JAI kian mengalami tekanan berat. Mereka tidak bisa beribadah dengan tenang. Padahal, syahadat, shalat dan juga ibadah lainnya sama dengan praktek muslim mayoritas. Pantaskah mereka menerima itu semua? Lebih pantas mana dengan koruptor?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:27pt;"><span style="font-size:12pt;font-family:Georgia;">Titik perselisihan dalam masalah Ahmadiyah hanya ada pada wilayah penafsiran, sekali lagi penafsiran. Itupun dalam masalah <em>furuiyyah</em>, sekalipun masuk dalam dataran keyakinan, yang menurut mayoritas muslim dianggap baku. Terserah mereka meyakini Mirza Ghulam Ahmad sebagai nabi atau tidak, yang pasti kita tidak berhak melakukan <em>tahkim</em> seperti sekte Khawarij pada abad pertengahan dulu. Mau meyakini sebuah batu atau keris bisa terbang, terserah. Itu masalah keyakinan. Banar dan salah, dalam keyakinan, tidak menjadi ukuran, kecuali dalam penelitian ilmiah. <span> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:27pt;"><span style="font-size:12pt;font-family:Georgia;">Penafsiran adalah hal yang biasa, wajar dan dapat ditolelir. Tidak dapat dipaksakan. Apalagi sudah menyangkut masalah kayakinan. Bagaimana kita mengukurnya? Bukankah itu berada di wilayah yang sangat abstrak, tak terdekte, dengan teknologi secanggih apapun. Sangat tidak masuk akal jika kita harus ribut-ribut mengurus masalah keyakinan. Apakah tidak ada urusan yang lebih urgen dipecahkan? Bangsa kita ini masih banyak PR yang belum terselesaikan. Kayakinan saja masih diperdebatkan. Tidak akan ada habisnya jika kita berdebat masalah keyakinan. Lebih baik mengurus soal kemiskinan, kebodohan dan keterbelakangan daripada mengurusi hal-hal yang tak akan pernah selesai.<span> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:27pt;"><span style="font-size:12pt;font-family:Georgia;">Setelah menang dalam perebutan penafsiran, apa yang akan didapat? Apakah kejayaan? Kejayaan yang mana? Milik siapa? Justru dari kemenangan itu yang pasti didapat adalah keserakahan, kesombongan dan keangkuhan. Islam akan menjadi agama yang angkuh, bukan yang rendah hati dan toleran. Coba kita bayangkan wajah Islam sekarang ini dalam pentas dunia. Identifikasinya selalu miring: teroris, pemberontak, bengis dan sebagainya. Yang bertepuk tangan siapa? Orang diluar sana, yang dinamakan kafir dan dekat neraka itu.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:27pt;"><span style="font-size:12pt;font-family:Georgia;">Kita masih sibuk mengurus keyakinan, sementara mereka telah bersibuk ria dengan eksperimen-eksperimen masa depan. Tidak ada guna mengurus sebuah keyakinan. Dan, hal itu tak menjamin kemajuan peradaban. Yang mendorong kemajuan bukan keyakinan, namun etos kerja. Barat bisa maju karena mereka menghindari konflik privasi. Asal tidak mengganggu ketertiban umum, akan diberi hak berekspresi. Begitu filosofi hidup mereka.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:27pt;"><span style="font-size:12pt;font-family:Georgia;">Satu bukti lagi bahwa keyakinan, sekali lagi, tidak menjamin kemajuan adalah berdirinya negara Arab Saudi. Negara mana yang mengakui kemajuan Arab Saudi? Tidak ada. Karena mereka bukan negara produsen, mereka hanya konsumen dari negara-negara kapitalis. Padahal, ketertiban keyakinan “ala wahhabi” yang tidak mentolelir TBC (<em>Tahayul, Bid’ah</em> dan <em>Khurafat</em>) ditegakkan secara ketat disana. Mereka hanya mengandalkan minyak. Sementara perkembangan peradaban mereka hanya berhenti pada materialisme dan konsumerisme, bukan ilmu pengetahuan. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:27pt;"><span style="font-size:12pt;font-family:Georgia;">Fatwa MUI jelas tidak membawa solusi, bahkan menimbulkan masalah-masalah baru yang lebih kompleks. Fatwa yang dalam disiplin ilmu fiqh tidak memiliki sifat yang mengikat –terserah ditaati atau tidak-, oleh orang yang mengaku “tentara tuhan” dipatuhi secara buta dengan pendekatan kekerasan. Siapa yang sebenarnya sesat? </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:27pt;"><span style="font-size:12pt;font-family:Georgia;">Terserah Anda, mau simpati atau marah terhadap Ahamdiyah atau ingin membakar jenggot “tentara tuhan” itu, <em>monggo mawon</em>. Namun harus diingat bahwa kita hidup dalam alam demokrasi yang menjunjung perbedaan, dengan catatan tidak mengganggu hak orang lain. Kalau Anda masih menganggap perbedaan penafsiran agama sebagai pelanggaran hak, atau bahkan penodaan, sepertinya Anda harus banyak berfikir. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:27pt;"><span style="font-size:12pt;font-family:Georgia;">Ya, terlalu lama kita hidup dalam kebodohan, sehingga belum mampu membedakan mana hak pribadi dan hak orang lain, mana musuh mana kawan, mana panafsiran mana kekerasan, mana keadilan mana keangkuhan, mana Tuhan mana manusia dan mana Muhammad mana Mirza Ghulam Ahmad. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:27pt;"><span style="font-size:12pt;font-family:Georgia;">Masa depan bangsa masih jauh, karena belum bisa bisa keluar dari konflik tak berkesudahan. Masih sibuk mengurus orang lain, sementara kewajibannya sendiri masih banyak yang belum terselesaikan. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:27pt;"><span style="font-size:12pt;font-family:Georgia;">Sebenarnya, kemiskinan yang melanda bangsa memang membuat siapapun marah, namun siapa yang akan menjadi sasaran marah mereka? Penguasa terlalu tebal telinganya untuk menerima kritik. Akhirnya, tidak ada yang menjadi sasaran. Mereka akhirnya menganggap tidak salah jika memilih rumah warga JAI sebagai sasaran amuk, karena berbeda keyakinan. Bahkan rumah Tuhan pun dijadikan sasaran. Dimana kedewasaan sikap kita? <em>Allah ihdina</em>! </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:27pt;"><span style="font-size:12pt;font-family:Georgia;">Tuhan tidak perlu di bela. Yang perlu dibela adalah yang tertindas seperti Ahmadiyah. Seharusnya, yang pantas mendapatkan fatwa sesat adalah yang memfatwakan sesat dan memancing kekerasan antar agama, karena mereka yang merekomemdasikan. Begitu juga oknum-oknum yang mengikuti fatwa sesat itu. Merekalah yang dholim. Perlu dibenahi cara berpikir kita. <strong><em>Didondomi!.</em></strong> Yang siap untuk diajak dialog ternyata adalah santri yang dekat dengan tradisi. Bukan orang-orang kota yang telah tercerabut dari tradisi. Saatnya Santri Memimpin Dunia. <em>Allhumma ahlikil kafaroh waddholimin.<span> </span><span> </span></em></span></p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/iksab1semarang.wordpress.com/7/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/iksab1semarang.wordpress.com/7/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/iksab1semarang.wordpress.com/7/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/iksab1semarang.wordpress.com/7/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/iksab1semarang.wordpress.com/7/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/iksab1semarang.wordpress.com/7/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/iksab1semarang.wordpress.com/7/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/iksab1semarang.wordpress.com/7/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/iksab1semarang.wordpress.com/7/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/iksab1semarang.wordpress.com/7/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/iksab1semarang.wordpress.com/7/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/iksab1semarang.wordpress.com/7/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=iksab1semarang.wordpress.com&blog=3614555&post=7&subd=iksab1semarang&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://iksab1semarang.wordpress.com/2008/05/05/ketika-rumah-tuhan-dihancurkan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/ce37657338ccb6d6d786c84dff8e56f8?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">iksab1semarang</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Prodek (Program Jangka Pendek)</title>
		<link>http://iksab1semarang.wordpress.com/2008/05/03/prodek-program-jangka-pendek/</link>
		<comments>http://iksab1semarang.wordpress.com/2008/05/03/prodek-program-jangka-pendek/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 03 May 2008 07:36:23 +0000</pubDate>
		<dc:creator>iksab semarang</dc:creator>
				<category><![CDATA[Press Release]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://iksab1semarang.wordpress.com/?p=6</guid>
		<description><![CDATA[Setelah IKSAB IAIN Semarang Berkibar
 
Rabu legi, 11 Rabiul Awwal 1429 H, bertepatan pada 19 Maret 2008, pukul 15. 30 istiwak, di Auditorium Kampus II IAIN Walisongo Semarang berkumpul para alumni (bentuk jamak dari alumnus, red) TBS dalam rangka silaturrahim sekaligus memilih ketua IKSAB TBS Komisariat IAIN Walisongo Semarang. Sekitar 30-an orang alumni yang hadir pada [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=iksab1semarang.wordpress.com&blog=3614555&post=6&subd=iksab1semarang&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p class="MsoNormal" style="text-align:center;margin:0;" align="center"><span style="font-size:14pt;font-family:Georgia;">Setelah IKSAB IAIN Semarang Berkibar</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:27pt;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Georgia;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:27pt;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Georgia;">Rabu legi, 11 <em>Rabiul Awwal</em> 1429 H, bertepatan pada 19 Maret 2008, pukul 15. 30 istiwak, di Auditorium Kampus II IAIN Walisongo Semarang berkumpul para alumni (bentuk jamak dari alumnus, <em>red</em>) TBS dalam rangka silaturrahim sekaligus memilih ketua IKSAB TBS Komisariat IAIN Walisongo Semarang. Sekitar 30-an orang alumni yang hadir pada saat itu, mulai dari tahun 1999-2007, memilih Ahmad Tajuddin Arafat (alumni 2005) sebagai ketua terpilih. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:27pt;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Georgia;">Dengan suasana penuh keakraban dan kekeluargaan, sore itu juga dibahas langsung agenda jangka pendek yang akan dilaksanakan. Ini merupakan tahun dimana IKSAB Semarang, khususnya IAIN Walisongo akan meneguhkan kembali eksistensinya setelah beberapa tahun lalu sempat menghilang dari peredaran.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:27pt;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Georgia;">Beberapa hal yang menjadi agenda jangka pendek, yang telah disepakati bersama dalam Rapat Kerja (Raker) singkat tersebut adalah: [1] melaksanakan acara pelantikan sekaligus maulid Nabi Muhammad. [2] mensosialisasikan berdirinya IKSAB Semarang melalui media massa cetak. [3] membuat sarana komunikasi dalam rangka memperluas dan menyatukan ikatan alumni IKSAB yang ada di seluruh dunia. [4] merencanakan berdirinya <em>basecamp </em>sebagai pusat kegiatan IKSAB.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:27pt;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Georgia;">Pada Rabu Pahing, 2 <em>Rabi’ul Akhir</em> 1429/ 9 April 2008, pukul 15.00 istiwa’, agenda pertama, yakni maulid Nabi dan pelantikan telah sukses dilaksanakan di masjid kampus II IAIN. Dihadiri lebih dari 70 alumni dari beberapa kampus di sekitar Semarang. Antara lain Unissula, Undip, UNNES, IKIP PGRI, Unisbank, Untag dan Unwahas. KH. Mushthafa Imran yang saat itu hadir sebagai pembicara memberikan apresiasi setinggi-tingginya kepada pengurus IKSAB yang baru dilantik langsung oleh Ketua IKSAB Pusat, Drs. H. Ahmad Sururi. Mushthafa yang juga menjabat Kepala MA TBS tersebut berharap IKSAB Semarang mampu memberikan terobosan bagus bagi pengembangan alumni yang ada di Semarang. Bukan sekadar organisasi papan nama, tanpa program yang jelas.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:27pt;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Georgia;">Melalui siaran pers (<em>Press Release</em>) yang dikirimkan ke beberapa media massa, IKSAB juga mengabarkan kepada khalayak, terutama kepada alumni, bahwa IKSAB IAIN Semarang telah resmi berkibar. Selain itu, terbitnya blog yang beralamat di <strong>iksab1semarang.wordpress.com</strong> ini, merupakan bagian dari program jangka pendek IKSAB Komisariat IAIN Semarang yang telah direalisasikan. Tujuannya tiada lain kecuali sebagai sarana menjalin komunikasi [terutama jaringan IKSAB yang ada di seluruh dunia]. <em>Alhamdulillah. </em></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:27pt;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Georgia;">Sementara itu, untuk membuat <em>basecamp</em> IKSAB harus membutuhkan waktu dan tenaga, karena keterbatasan dana. Pasca berdiri satu bulan yang lalu, IKSAB IAIN Semarang masih mengandalkan swadaya pengurus. Sangat jauh dari mencukupi untuk mendirikan sebuah <em>basecamp </em>yang membutuhkan biaya tidak sedikit. Ini menuntut kepiawaian dalam menyusun strategi serta kerja keras dari pengurus IKSAB. Sebelum <em>basecamp</em> berdiri, untuk sementara pusat kegiatan IKSAB IAIN Semarang ditempatkan di Tanjung Sari Utara, Tambak Aji, Ngaliyan Semarang 50185. Bagi yang ingin menyapa melalui elektronik mail (email) bisa di </span><em><span style="font-size:12pt;font-family:Georgia;"><a href="mailto:iksabtbs-smg@gmail.com"><span style="color:windowtext;text-decoration:none;">iksabtbssmg@gmail.com</span></a>.</span></em><span style="font-size:12pt;font-family:Georgia;"> Atau di CP: 081 326 706 549 (Sdr. A. Tajuddin Arafat) dan 085 226 228 507 (Sdr. M. Abdullah Badri). </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:27pt;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Georgia;">Selain program jangka pendek yang telah direncanakan, pada 29 April 2008, IKSAB bekerja sama dengan Penerbit <em>Mubarakatan Thayyibah</em> Kudus berpartisipasi dalam acara <em>Book Fair</em> di Fakultas Ushuluddin IAIN Walisongo. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:27pt;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Georgia;">Bekerjasama dengan FORMAT Yogyakarta dan Jakarta, IKSAB Semarang juga berencana mengadakan dialog interaktif dengan tema: “<strong>Pesantren dan Tantangan Modernitas</strong>” ke Madrasah TBS Kudus. Tujuannya, selain sosialisasi juga dalam rangka memberikan dorongan semangat kepada adik-adik kelas yang hendak lulus ujian agar tetap memiliki semangat belajar. Untuk itulah para pembicara yang akan dihadirkan adalah yang memiliki prestasi, baik lokal, nasional maupun internasional. [iksaba]<em></em></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Georgia;"> </span></p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/iksab1semarang.wordpress.com/6/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/iksab1semarang.wordpress.com/6/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/iksab1semarang.wordpress.com/6/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/iksab1semarang.wordpress.com/6/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/iksab1semarang.wordpress.com/6/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/iksab1semarang.wordpress.com/6/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/iksab1semarang.wordpress.com/6/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/iksab1semarang.wordpress.com/6/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/iksab1semarang.wordpress.com/6/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/iksab1semarang.wordpress.com/6/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/iksab1semarang.wordpress.com/6/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/iksab1semarang.wordpress.com/6/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=iksab1semarang.wordpress.com&blog=3614555&post=6&subd=iksab1semarang&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://iksab1semarang.wordpress.com/2008/05/03/prodek-program-jangka-pendek/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>6</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/ce37657338ccb6d6d786c84dff8e56f8?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">iksab1semarang</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Mulai Berselancar</title>
		<link>http://iksab1semarang.wordpress.com/2008/04/30/mulai-berselancar/</link>
		<comments>http://iksab1semarang.wordpress.com/2008/04/30/mulai-berselancar/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 30 Apr 2008 14:04:10 +0000</pubDate>
		<dc:creator>iksab semarang</dc:creator>
				<category><![CDATA[Press Release]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://iksab1semarang.wordpress.com/?p=3</guid>
		<description><![CDATA[Assalamualaikum,
Alhamdulillah, akhirnya IKSAB Semarang berselancar juga. Mohon doa restu pembaca agar kami bisa eksis bersama dalam rangka membangun dan memberdayakan potensi santri. Sekian dulu. Syukron Katsiro.
Assalamualaikum.
Ttd,
Admint
       <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=iksab1semarang.wordpress.com&blog=3614555&post=3&subd=iksab1semarang&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>Assalamualaikum,</p>
<p>Alhamdulillah, akhirnya IKSAB Semarang berselancar juga. Mohon doa restu pembaca agar kami bisa eksis bersama dalam rangka membangun dan memberdayakan potensi santri. Sekian dulu. Syukron Katsiro.</p>
<p>Assalamualaikum.</p>
<p>Ttd,</p>
<p>Admint</p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/iksab1semarang.wordpress.com/3/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/iksab1semarang.wordpress.com/3/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/iksab1semarang.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/iksab1semarang.wordpress.com/3/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/iksab1semarang.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/iksab1semarang.wordpress.com/3/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/iksab1semarang.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/iksab1semarang.wordpress.com/3/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/iksab1semarang.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/iksab1semarang.wordpress.com/3/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/iksab1semarang.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/iksab1semarang.wordpress.com/3/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=iksab1semarang.wordpress.com&blog=3614555&post=3&subd=iksab1semarang&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://iksab1semarang.wordpress.com/2008/04/30/mulai-berselancar/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/ce37657338ccb6d6d786c84dff8e56f8?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">iksab1semarang</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>