Ketika “Rumah Tuhan” Dihancurkan

Ketika “Rumah Tuhan” Tak Diagungkan

Oleh: Marsam H. S.

“Pakaian kebangsaan kita. Harga diri nasionalisme kita tersobek-sobek oleh tradisi penindasan, oleh tradisi kebodohan, oleh tradisi keserakahan yang tidak habis-habis. Dondomono, jlumatono kanggo sebo mengo sore. Harus kita jahit kembali, harus kita benahi lagi, harus kita utuhkan kembali agar supaya kita siap untuk menghadap ke masa depan,”

Demikian Budayawan Emha Ainun Najib memberikan gambaran betapa bangsa kita belum siap mengerti dan memahami masalahnya sendiri. Belum tahu beda antara demokrasi dan anarki. Ya, nilai kehidupan beragama kita kembali tercoreng dengan sikap arogansi para “Tentara Tuhan” yang menghancurkan masjid Jamaah Ahmadiyah Indonesia (JAI) beberapa waktu belakangan ini.

Masjid –dan juga tempat-tempat suci lain- yang dalam bahasa Al-Qur’an disebut sebagai syiar-syiar Islam dibakar atas nama Tuhan. Praktis, rumah Tuhan itu hangus beserta tanda-tanda keagungannya. Tak ada lagi suara adzan yang bergema disana. Hanya tangisan dan ratapan kesedihan akibat tradisi penindasan dan kekerasan dalam beragama.

Alangkah malang nasib yang menimpa saudara kita dari Ahmadiyah. Pasca fatwa MUI yang menyatakan sesatnya Ahmadiyah beberapa bulan lalu, disusul dengan rencana pembubaran Ahmadiyah belum lama ini, muslimin yang tergabung dalam JAI kian mengalami tekanan berat. Mereka tidak bisa beribadah dengan tenang. Padahal, syahadat, shalat dan juga ibadah lainnya sama dengan praktek muslim mayoritas. Pantaskah mereka menerima itu semua? Lebih pantas mana dengan koruptor?

Titik perselisihan dalam masalah Ahmadiyah hanya ada pada wilayah penafsiran, sekali lagi penafsiran. Itupun dalam masalah furuiyyah, sekalipun masuk dalam dataran keyakinan, yang menurut mayoritas muslim dianggap baku. Terserah mereka meyakini Mirza Ghulam Ahmad sebagai nabi atau tidak, yang pasti kita tidak berhak melakukan tahkim seperti sekte Khawarij pada abad pertengahan dulu. Mau meyakini sebuah batu atau keris bisa terbang, terserah. Itu masalah keyakinan. Banar dan salah, dalam keyakinan, tidak menjadi ukuran, kecuali dalam penelitian ilmiah.

Penafsiran adalah hal yang biasa, wajar dan dapat ditolelir. Tidak dapat dipaksakan. Apalagi sudah menyangkut masalah kayakinan. Bagaimana kita mengukurnya? Bukankah itu berada di wilayah yang sangat abstrak, tak terdekte, dengan teknologi secanggih apapun. Sangat tidak masuk akal jika kita harus ribut-ribut mengurus masalah keyakinan. Apakah tidak ada urusan yang lebih urgen dipecahkan? Bangsa kita ini masih banyak PR yang belum terselesaikan. Kayakinan saja masih diperdebatkan. Tidak akan ada habisnya jika kita berdebat masalah keyakinan. Lebih baik mengurus soal kemiskinan, kebodohan dan keterbelakangan daripada mengurusi hal-hal yang tak akan pernah selesai.

Setelah menang dalam perebutan penafsiran, apa yang akan didapat? Apakah kejayaan? Kejayaan yang mana? Milik siapa? Justru dari kemenangan itu yang pasti didapat adalah keserakahan, kesombongan dan keangkuhan. Islam akan menjadi agama yang angkuh, bukan yang rendah hati dan toleran. Coba kita bayangkan wajah Islam sekarang ini dalam pentas dunia. Identifikasinya selalu miring: teroris, pemberontak, bengis dan sebagainya. Yang bertepuk tangan siapa? Orang diluar sana, yang dinamakan kafir dan dekat neraka itu.

Kita masih sibuk mengurus keyakinan, sementara mereka telah bersibuk ria dengan eksperimen-eksperimen masa depan. Tidak ada guna mengurus sebuah keyakinan. Dan, hal itu tak menjamin kemajuan peradaban. Yang mendorong kemajuan bukan keyakinan, namun etos kerja. Barat bisa maju karena mereka menghindari konflik privasi. Asal tidak mengganggu ketertiban umum, akan diberi hak berekspresi. Begitu filosofi hidup mereka.

Satu bukti lagi bahwa keyakinan, sekali lagi, tidak menjamin kemajuan adalah berdirinya negara Arab Saudi. Negara mana yang mengakui kemajuan Arab Saudi? Tidak ada. Karena mereka bukan negara produsen, mereka hanya konsumen dari negara-negara kapitalis. Padahal, ketertiban keyakinan “ala wahhabi” yang tidak mentolelir TBC (Tahayul, Bid’ah dan Khurafat) ditegakkan secara ketat disana. Mereka hanya mengandalkan minyak. Sementara perkembangan peradaban mereka hanya berhenti pada materialisme dan konsumerisme, bukan ilmu pengetahuan.

Fatwa MUI jelas tidak membawa solusi, bahkan menimbulkan masalah-masalah baru yang lebih kompleks. Fatwa yang dalam disiplin ilmu fiqh tidak memiliki sifat yang mengikat –terserah ditaati atau tidak-, oleh orang yang mengaku “tentara tuhan” dipatuhi secara buta dengan pendekatan kekerasan. Siapa yang sebenarnya sesat?

Terserah Anda, mau simpati atau marah terhadap Ahamdiyah atau ingin membakar jenggot “tentara tuhan” itu, monggo mawon. Namun harus diingat bahwa kita hidup dalam alam demokrasi yang menjunjung perbedaan, dengan catatan tidak mengganggu hak orang lain. Kalau Anda masih menganggap perbedaan penafsiran agama sebagai pelanggaran hak, atau bahkan penodaan, sepertinya Anda harus banyak berfikir.

Ya, terlalu lama kita hidup dalam kebodohan, sehingga belum mampu membedakan mana hak pribadi dan hak orang lain, mana musuh mana kawan, mana panafsiran mana kekerasan, mana keadilan mana keangkuhan, mana Tuhan mana manusia dan mana Muhammad mana Mirza Ghulam Ahmad.

Masa depan bangsa masih jauh, karena belum bisa bisa keluar dari konflik tak berkesudahan. Masih sibuk mengurus orang lain, sementara kewajibannya sendiri masih banyak yang belum terselesaikan.

Sebenarnya, kemiskinan yang melanda bangsa memang membuat siapapun marah, namun siapa yang akan menjadi sasaran marah mereka? Penguasa terlalu tebal telinganya untuk menerima kritik. Akhirnya, tidak ada yang menjadi sasaran. Mereka akhirnya menganggap tidak salah jika memilih rumah warga JAI sebagai sasaran amuk, karena berbeda keyakinan. Bahkan rumah Tuhan pun dijadikan sasaran. Dimana kedewasaan sikap kita? Allah ihdina!

Tuhan tidak perlu di bela. Yang perlu dibela adalah yang tertindas seperti Ahmadiyah. Seharusnya, yang pantas mendapatkan fatwa sesat adalah yang memfatwakan sesat dan memancing kekerasan antar agama, karena mereka yang merekomemdasikan. Begitu juga oknum-oknum yang mengikuti fatwa sesat itu. Merekalah yang dholim. Perlu dibenahi cara berpikir kita. Didondomi!. Yang siap untuk diajak dialog ternyata adalah santri yang dekat dengan tradisi. Bukan orang-orang kota yang telah tercerabut dari tradisi. Saatnya Santri Memimpin Dunia. Allhumma ahlikil kafaroh waddholimin.

Satu Tanggapan

  1. Ass. Saya apresiasi berat kepada IKSAB Semarang. Apalagi berani membela Ahmadiyah atas kekerasan yang menimpa Ahmadiyah. Memang, menurut agama manapun, kekerasan adalah hal yang paling dibenci. Apalagi terhadap saudara sendiri. Kita harus menyadari bahwa bangsa Indonesia itu sangat majmuk. Jika pluralisme bukan menjadi sikap kita, yang terjadi ya seperti pembakaran masjid si Kebumen kemarin itu. Jangan salah, saya juga ngikuti beritanya lho. Ya, bakar aja jenggot para tentara Tuhan yang sok tahu itu. Salam dari Yaman. Wss

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: