Santri Fundamental

Fundamentalisme Santri

Oleh: A. Tajuddin Arafat

Dalam dinamisasi Islam, muncul dua arus pemikiran yang bisa dikatakan berlawanan. Pertama, pemikiran fundamentalisme yang kini telah menjelma menjadi suatu gerakan yang lebih dekat anarkisme ketimbang aksi peace and love. Kedua, liberalisme Islam yang memiliki gaya berfikir bebas dengan misi agar Islam shalih li kulli zaman wal makan. Arus pemikiran yang ditekuni para pemikir muda ini kadang kebablasan, sehingga kadang kelewat batas.

Kedua arus pemikiran itu merupakan salah satu tantangan bagi eksistensi kaum santri dalam kontektualisasi ajaran agama yang telah dipelajarinya di pesantren dengan realitas kekinian. Santri yang notabenenya adalah agen sosial mempunyai peran penting dalam masyarakat, terutama dalam bidang keagamaan yang sekarang ini semakin dibutuhkan.

Dengan motto yang terkenal, yaitu: al-muhâfazhah ‘ala al-qadîm al-shâlih wa al-akhdzu bi al-jadîd al-ashlah (memelihara nilai-nilai lama yang masih relevan dan mengakomodir nilai-nilai baru yang lebih positif), sejarah santri akan menemukan relevansinya dengan perubahan zaman yang terus menerus terjadi. Tuntutan untuk menyesuaikan diri, beradaptasi dengan lingkungan menjadi hal yang tidak bisa ditawar-tawar lagi, jika santri ingin tetap diakui eksistensinya.

Fundamentalisme

Menurut Karen Amstrong, fundamentalisme pada dasarnya tidak muncul dalam perjalanan sejarah agama Islam saja, tetapi juga dalam agama samawi (Nasrani dan Yahudi) dan agama timur (Budha, Hindu, Zoraster, Sinto dll.). dalam sejarahnya, fundamentalisme agama merupakan gambaran atas keinginan kuat sebuah pemeluk agama untuk kembali ke ajaran dasar agama, dan upaya untuk melestarikannya kembali. Namun sayang, pemahaman untuk kembali ke ajaran dasar yang sesungguhnya, sebagaimana yang terlihat dalam dua dekade terakhir, terkadang melampaui batas kewajaran. Sehingga, upaya untuk melestarikan ajaran agama yang diyakini itu harus menggunakan kekerasan. Padahal, tidak ada satu ajaran agama pun yang mengajarkan tentang kekerasan.

Istilah fundamentalisme sendiri sebenarnya tidak dikenal dalam Islam. Istilah ini dikenalkan Barat untuk menyebut kelompok Islam kanan-murni yang dituduh telah menebarkan teror dan ancaman dalam masyarakat dunia, terutama pasca tragedi 11 september 2001. Barat beranggapan bahwa Islam mengajarkan radikalisme, anrkisme dan kekerasan kepada orang lain. Stigma nagatif yang dibangun Barat atas Islam itulah yang kemudian melahirkan anggapan bahwa Islam adalah agama yang teroris, menakutkan dan mengerikan.

Perlu dibedakan pula antara istilah “fundamentalisme” dan “radikalisme”. Keduanya sangat berbeda walaupun berasal dari akar kata yang berarti sama, yakni berbicara tentang sesuatu yang pokok atau dasar. Fundamentalisme merupakan suatu keyakinan untuk kembali ke pokok-pokok ajaran agama. Bisa dikonotasikan positif maupun negatif, tergantung sudut pandang masing-masing.

Fundamentalisme merupakan sebuah pandangan teologis atau pemahaman keagamaan dimana seseorang mendasarkan seluruh pandangan-pandangan dunianya, nilai-nilai hidupnya dan spiritualnya pada ajaran eksplisit agama.

Kata fundamentalisme, jika di terjemahkan ke dalam bahasa Arab adalah al-ushuliyah atau as-salafiyyah, walaupun dalam hal ini M. Abid al-Jabiri kurang sependapat. Dalam keilmuan klasik Islam, istilah ushul digunakan untuk ushul fiqh atau ushul al-din, yang jelas jauh dari permasalahan politik atau sosial tertentu. Sementara, terma as-salafiyyah lebih identik dengan corak pemahaman keagamaan yang dilakukan para ulama’ terdahulu (salaf as-shalih) yang juga pernah dipakai sebuah gerakan salafiyah pada era Imam Ahmad ibn Hanbal dan kemudian berkembang sampai zaman Ibnu Taimiyah dan Ibnu Qayyim al-Jauzi hingga Muhammad Abdul Wahab (wahabiyah), al-Afghani, Muhammad Abduh dan Rasyid Ridha di abad 20.

Pemaparan sederhana diatas sedikit mengarah pada sebuah kesimpulan bahwa istilah fundamentalisme telah mengalami pematokan, pelebaran dan penyempitan makna. Istilah tersebut sempat dipatok untuk fenomena salafiyah sejak Ibnu Hanbal sampai al-Afghani, kemudian dilebarkan untuk semua gerakan pemurnian Islam. Lalu disempitkan untuk gerakan muslim radikal, literal atau garis keras. Sehingga dalam perkembanganya, gerakan ini lebih banyak dikaitkan dengan berbagai persoalan sosio-politik kontemporer yang sedang berkembang saat ini. In the last, seharusnya gerakan fundamentalisme Islam berjalan seiring dengan perkembangan zaman yang berjalan serasi dengan perkembangan peradaban umat manusia yang dinamis.

Membangun Fundamentalisme Santri

Islam yang rahmatan lil ‘alamin merupakan perwujudan dari nilai-nilai universal yang terkandung dalam pokok ajaran Islam, yakni Al-Qur’an maupun Al-Hadits. Nilai yang mengedepankan keharmonisan, kekhusyu’an dan kemaslahatan bagi semua. Sehingga nilai-nilai itulah yang seharusnya diambil dan kemudian berusaha dipahami oleh umat manusia pada umumnya, dan umat Islam pada khususnya.

Dalam hal ini, posisi santri sangat diperhitungkan. Karena dalam pola pikir santri, sebuah pengabdian dan penghayatan terhadap ajaran agama merupakan pondasi awal dalam menapaki keberlangsungan hidup di dunia ini. Tradisi santri mengatakan bahwa agama mengajarkan semua tentang kehidupan dan keberlangsungan setelah mati. Sehingga ada semacam garis lurus yang membentang diantara hidup di dunia dengan hidup kelak di akhirat.

Tradisi lain dari santri yang layak perhatikan adalah adanya usaha dalam mengamalkan apa yang mereka ketahui. Karena dalam pandangannya, apa guna ilmu bila tanpa di aplikasikan dalam kehidupan. Dari sini bisa dilihat akan adanya rasa bertanggung jawab atas apa yang telah dimengerti dan dipahami ketika mempelajari agama. Sehingga pemahaman santri terhadap ajaran agama seperti inilah yang dinamakan fundamentalisme agama ala santri.

Fundamentalisme santri yang dibangun dalam bingkai pengamalan terhadap ajaran agama dan mencari maslahat untuk umat inilah yang merupakan bentuk dari kelompok yang mengedepankan asas keimanan dan kemanusian dalam berperilaku. Posisi fundamentalisme santri dalam hal ini bukanlah tengah-tengah (moderat), karena sikap moderat bila dipandang dari sudut yang kanan akan menjadi kiri dan begitupun sebaliknya bila dipandang dari sisi kiri akan menjadi kanan. Sehingga lebih pantasnya, fundamentalisme santri merupakan bangunan kecil dari apa yang disebut ummatan wasathon dalam al-Qur’an, yakni umat yang mengedepankan keadilan, kemaslahatan dan bijak dalam bertindak. Walhasil, membangun fundamentalisme ala santri merupakan sesuatu yang perlu dipikirkan kembali untuk menjamin tatanan kehidupan menjadi lebih baik dan tujuan-tujuan (al-ghoyah) dalam beragama menjadi realistis.[ab]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: