BUKA BERSAMA RAMADLAN 1432 H/AGUSTUS 2011 M

Buka bersama merupakan tradisi tahunan bagi tiap organisasi mahasiswa dimanapun berada. Ada yang sekedar berbuka, ada yang sekedar bertemu saja dan ada juga yang jalan-jalan ke suatu tempat. Pada kepengurusan periode ini, IKSAB Madrasah TBS Kudus Cabang Semarang juga mengadakan hal serupa dengan tradisi yang berbeda pula: tahlilan, ceramah dan ta’aruf dan buka bersama bagi mahasiswa baru angkatan 2011-2012.

“Buka bersama ini seharusnya diadakan di Universitas Wahid Hasyim, akan tetapi karena waktu yang tidak memadai dan juga berbarengan dengan liburan semester genap, maka buka bersama ini dipindah ke IAIN Walisongo”, terang sekretaris IKSAB, M. Autad An Nasher di asrama FUPK Perum Depag IAIN Walisongo.

Tepatnya pada Senin Kliwon, 15 Ramadlan 1432 H/15 Agustus 2011 M pukul 16.30 WIS di timur auditorium II kampus III IAIN Walisongo Semarang, buka bersama ini diikuti oleh sekitar 40 mahasiswa lama dan baru. “Ada dosen, beberapa senior dan mahasiswa yang berasal dari UNWAHAS, UNDIP, UNISSULA dan STAIN Kudus. Beberapa universitas ada yang belum bisa hadir dikarenakan bertepatan dengan liburan, jadi mereka pulang ke rumah”, kata M. Zainal Mawahib ketika ditanya tentang peserta yang hadir. Mahasiswa program Konsentrasi Ilmu Falak itu juga mengatakan bahwa buka bersama ini memang tidak semeriah tahun lalu dikarenakan banyak teman yang menjadi panitia orientasi pengenalan kampus, ada yang mengikuti PPL dan KKN, dan juga ada yang belum sampai di Semarang.

Setelah tahlil umum, acara dilanjutkan dengan ta’aruf bagi mahasiswa baru dan sepenggal ceramah oleh K. Zainul Adzfar, M. Ag. Beliau mengatakan bahwa dari beberapa organisasi punya kekhasan tersendiri dalam visi dan misinya, begitupun juga IKSAB ini. Dosen yang akrab disapa dengan Pak Inul itu mengatakan dalam ceramahnya “Pluralisme itu bukan hanya mengatakan bahwa saya adalah Islam, bukan Nahdlatul Ulama’, bukan Muhammadiyyah. Itu tidak bisa, tapi kita harus punya kekhasan tersendiri”. “Dengan lewat diskusi, entertainmen ataupun yang lainnya bahwa yang namanya mencium tangan kiai itu barakah, kita harus mengarah ke sana”, terang dosen yang juga Ketua Jurusan Aqidah Filsafat di Fakultas Ushuluddin IAIN Walisongo Semarang.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: